BAKAT DAN MINAT ANAK (artikel 5)

Posted: 6 November 2008 in ARTIKEL
Tag:

telah di posting di <suklowor.blogspot.com> tanggal 28 Juli 2008

BAKAT DAN MINAT ANAK

Kalau misalnya diajukan pertanyaan kepada para orang tua di Indonesia, begini pertanyaan nya, kalau misalnya anak anda punya keinginan atau cita-cita menjadi koki (juru masak) boleh apa tidak?. Saya yakin hampir semuanya menjawab tidak boleh, pasti mereka lebih menginginkan anaknya untuk menjadi Polisi, TNI, guru, pengacara atau PNS, insiyur, dll.

Nah menurut anda jawaban itu termasuk kategori bodoh atau stupid? Menurut saya jawaban tersebut termasuk keduanya, kenapa jawaban tersebut termasuk bodoh & stupid karena gaji seorang koki untuk hotel bintang 4 & 5 sudah melebihi angka 30 juta sebulan bandingkan dengan Polisi, TNI, guru, pengacara atau PNS. Mana ada yang segitu kalau tidak korupsi atau ngakali orang lain, bahkan untuk menjadi seorang Polisi atau TNI harus bayar 75 jutaan, sebuah cita-cita yang konyol. Saya mengistilahkan uang itu sebagai “uang muka neraka” karena sesuai hadits Rasulullah baik yang memberi uang atau yang menerima uang korupsi dua-duanya neraka. Bisa diartikan gaji yang mereka terima tidak halal karena cara perolehannya juga tidak halal.

Hal diatas merupakan kesalahan pokok (penyebab) kenapa bangsa ini tidak bisa maju dan makmur, Negara ini tidak berkah karena kebanyakan pengelolanya juga salah.

Kembali pada judul yang saya tulis diatas, kekurang pedulian terhadap bakat dan minat alami anak merupakan kesalahan fatal, sebab menurut saya bakat dan minat alami anak merupakan anugrah dari sang pencipta yang wajib di syukuri dan salah satu cara terbaik untuk mensyukuri adalah mengembangkan bakat dan minat tersebut sebaik-baiknya.

Alangkah bahagianya orang yang bisa hidup dan bekerja dari hal yang mereka sukai, apakah orang tua tidak ingin membahagiakan anaknya dunia dan akhirat, ataukah ada orang yang mau masuk neraka hanya karena anaknya salah jalan, atau korupsi atau makan makanan tidak halal.

Tapi itulah yang umum di Indonesia baik dari pola pendidikan keluarga maupun pola pendidikan yang ada di Indonesia, yang tercermin dalam kurikulum pendidikan nasional, lihatlah program Ujian Akhir Nasional (UAN) yang hanya mengujikan 4 atau 5 mata pelajaran, matematika, fisika, bahasa inggris, bahasa Indonesia, saya fakir itu sama dengan sebuah doktrin ngawur bahwa anak Indonesia nantinya harus menjadi ahli dari mata pelajaran tersebut diatas. Sedangkan untuk anak yang memiliki bakat dan minat diluar pelajaran-pelajaran tersebut disia-siakan dan tidak ada perhatian. Sehingga bakat alami mereka mati, maka jangan heran kalau banyak sarjana nganggur, karena memang saat memilih jurusan mereka tidak memiliki pengetahuan tentang bakat dan minatnya, kemudian baru sadar setelah sudah masuk kuliah, setelah sadar sudah terlambat mau mundur harus memulai dari o padahal sudah keluar banyak dana dan waktu, kalau dilanjutkan saya pastikan menjadi tidak semangat dengan pelajaran, akhirnya lulus tanpa kemampuan yang memadai, mau masuk dunia kerja susah, jangankan masuk, lulus tes saja ndak. Akhirnya PNS-lah menjadi pilihan terakhir bahkan pilihan utama karena hanya PNS lah satu-satunya pekerjaan yang tidak memerlukan kemampuan memadai hanya perlu uang untuk menjadi PNS. Padahal PNS pun kesempatannya tidak banyak, sehingga banyak pengangguran bertitel sarjana.

Atau lihatlah anak-anak yang lulus SMU tapi tidak mau kuliah, karena mereka sudah malas belajar, kenapa mereka malas belajar, karena waktu SD, SMP, SMA mereka belajar seperti di paksa sehingga tidak menikmati pelajaran hal itu dikarenakan tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Inilah yang harus kita perhatikan, orang-orang di negara maju kebanyakan sebelum memasukan anak nya ke sekolah, anak sudah dihadapkan dulu pada psikolog untuk di cari bakat dan minatnya, sehingga saat masuk ke sekolah jalur mereka sudah benar.

Begitu sekelimit semoga bisa memberikan kesadaran kepada kita akan pentingnya mengetahui bakat dan minat anak sekaligus pengembangannya. Syukur bagi masyarakat yang mempunyai kepedulian lebih untuk membentuk LSM untuk membantu masyarakat Indonesia pada umumnya.

Komentar
  1. Yella Ojrak mengatakan:

    Yah, itulah yang selama ini terjadi pada saya. Maunya kuliah kriminologi, tapi sama bokap dipaksa masuk kedokteran. Gile aje Yella jadi dokter… bisa runyam dunia!

    • muhammad mengatakan:

      tapi anda harus menghadapi kenyataan dengan penush semangat dan rasa sukur ,jika rasa sukur itu kuat pada dirimu kamu akan jadi dokter yang baik dan sangat dibutuhkan orang banyak,coba akhirnya sama kan dimata tuhan kamu menjadi orang baik.

  2. Yella Ojrak mengatakan:

    Eh, ceritanya belum selesai.

    Berhubung bokap maunya saya jadi dokter, PLUS kuliahnya ga boleh di luar kota, akhirnya saya bohongin dia. Saya bilang saya keterima UMPTN di kedokteran unair, biar dia mau biayain kuliah.

    3 semester kemudian dia baru tau kalo sebenarnya saya bukannya calon dokter, tapi calon wartawan. Dia marah besar. Dana buat kuliah dihentikan. Saya musti cari biaya sendiri.

  3. suklowor mengatakan:

    saya juga mengalami nasip yang hampir sama, meski bukan faktor ortu, karna ortu memberi kebebasan pada saya untuk memilih, akibatnya saya harus pontang-panting meng-explore bakat dan minat saya.

    itu tergambar dari riwayat pendidikan saya, MI (agama) SMP (satu2 nya sekolah negri yang saya alami), STM (teknik mesin), kursus Komputer D1 (jurusan Informatika) kemudian karena informatika di tutup separuh jalan saya pindah di Komputer Akuntasi (ternyata disitu Soul saya, baru setelah 4 tahun kerja saya kuliah di Akuntansi… dan syukurnya saya sekarang bekerja sebagai Accounting… dan enjoy dengan pekerjaan itu..

    sebuah perjalanan yang melelahkan… he..he..

  4. sanggita mengatakan:

    Posting yang bagus, Mas.

    Saya baru paham kenapa ortu masih sering memanfaatkan profesi guru, PNS, dokter, polisi, dll sebagai pilihan profesi anak2 mereka setelah baca bukunya Pram (tetralogi Buru).

    Ini memang berkaitan dengan sejarah bangsa yang selama 30 tahun dibuat bodoh, dikerdilkan pemikirannya. Dan saat itu, pekerjaan berseragamlah yang kan jelas2 terjamin kehidupannya.

    Heran. Kita sudah merdeka lebih dari setengah abad. Zaman juga sudah berganti, bukan industri lagi, tapi era informasi. Kok ya pikiran terhadap kerjaan bergengsi ngga ganti??!

    Replay:
    Pram = Pramoedya Ananta Toer, ya mbak… wah pasti bukunya keren tuh… judulnya apa ya mbak?

    hehe.. soal kerjaan nggak ganti, ku pikir karena budaya korupsi itu sih… coba kalau korupsi di berangus.. emh mereka pasti mikir, menurt saya lho mbak..

    makasih dah mampir

  5. YUS KUSUMA mengatakan:

    Assalamu’alaikum Pak…temen lama neh mo nimbrung. Aku pernah muda & skrg dah jd ortu yang punya sweet Gendhis, so aku ga kan paksain anakku kelak mo berprofesi apa yg penting halal ‘n bs bikin Gendhisku bahagia. Aplg sekarang mo jd PNS musti bertarung dg ribuan orang, blm lagi (maaf nih…msh ada yg pake “berjut-jut”…). Wassalam.

    Replay:
    Yup.. semoga sukses dalam karir dan keluarga… amin

    Use… kamu menjadi orang yang naruh komment di blog ini yang ke 500 lho

  6. kadek arsana mengatakan:

    bsa ngk d krimkan refrensi tentang bakat dan minat yang lengkap serta cara tes bakat dan minat pada anak-anak

  7. adilla febriana mengatakan:

    hwaaah…baguz…
    sya jg sperti itu…ortu saya tak pndai mlihat bakat saya..sbenarnya sya brbakat dalam bdang seni….tapi krna tak prnah terasah, apalah daya…
    hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s