INDONESIA KEBANYAKAN MAKAN IKLAN (artikel 2)

Posted: 6 November 2008 in ARTIKEL
Tag:, , , , , , , ,

telah di posting di <suklowor.blogspot.com> tanggal 28 juli 2008

INDONESIA KEBANYAKAN MAKAN IKLAN

Banyak orang saat ini menyalahkan kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM dibulan mei kemaren, katanya itulah yang menjadi penyebab rakyat sengsara.

Mungkin itu ada benarnya, karena kenaikan BBM maka harga-harga barang menjadi naik terutama bahan kebutuhan pokok, sedangkan banyak orang yang kenaikan pendapatannya tidak berbanding lurus dengan kenaikan kebutuhan pokok terutama kaum pekerja.

Tapi melihat naiknya harga minyak dunia yang terus membumbung tinggi, saya fakir kenaikan BBM tidak bisa di”nisbi”kan. Toh nantinya semua akan menyesuaikan meski butuh waktu, seperti hukum ekonomi setiap kenaikan harga-harga barang (inflasi) maka dengan sendirinya akan mencari titik equilibrium (keseimbangan), begitu seterusnya. Lihatlah kebelakang, saat BBM dinaikan ditahun 2005, inflasi memang melonjak waktu itu, atau inflasi gila ditahun 1997/1998, orang-orang teriak tentang kemiskinan dan kemelaratan tapi setelah waktu berlalu semua normal kembali indikasinya : peningkatan jumlah penjualan kendaraan bermotor yang luar biasa, begitulah hukum ekonomi berlaku.

Kembali pada judul yang saya tulis diatas, bahwa sebenarnya ada satu penyebab kenapa masyarakat Indonesia sengsara, saya pikir karena rakyat Indonesia terlalu banyak makan iklan, lihatlah kota-kota yang ada di Indonesia sekarang sepertinya tidak ada satu jengkal ruang pun yang lepas dari spanduk, baliho, famlet dan apalah namanya.. hampir setiap menit media cetak, media elektronik tidak lepas dari penayangan iklan, pernahkah kita berfikir berapa uang yang terpakai, Milyaran bahkan trilyunan rupiah, sedangkan, kalau kita bicara mengenai besaran cost of product saya yakin lebih dari 30% mungkin lebih dari 50%, lihat permen yang harganya Cuma 100 perak berani iklan di TV, sesuatu yang terbuang sia-sia.

Benar mungkin ada perputaran uang di sana dan itu akan menjadi satu factor pertumbuhan ekonomi, namun konyolnya perputaran uang tersebut hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang saja, yah mungkin agency iklan atau perusahaan yang memiliki hubungan dengan periklanan.

Tapi untuk orang-orang yang seperti tukang becak, sopir angkot, pedagang, pengemis, atau kaum pekerja yang tidak berhubungan dengan dunia periklanan mereka hanya menjadi korban saja.

Sebagai contoh sederhana untuk keperluan mandi (kebutuhan primer) satu orang saja setiap bulan mereka harus membayar biaya iklan, mari secara matematis kita hitung ; sabun mandi 1.500,- pasta gigi 7.000.- shampoo 7.000,- total 15.500, kalau kita hitung 30% saja biaya iklan berrarti 4.650,- itu hanya satu orang belum satu keluarga dan belum untuk keperluan lainnya, sandal jepit, ballpoint, kecap sampai penyedap rasa dan lain sebagainya jumlahnya lumayan besar, kalau hal ini kita kelola maka saya yakin rakyat kecil akan tertolong.

Lalu siapa yang salah, apakah pengusaha, tidak. Sebab kalau mereka tidak mengikuti pasar mereka akan tertinggal. Sebagai bangsa yang masih menganut faham ekonomi Keynesian yaitu faham yang masih menyertakan peran pemerintah dalam perekonomiannya, maka pemerintahlah yang harus disalahkan karena hanya mereka pemegang regulasi, pemerintah harus mengambil sikap membatasi pemasangan iklan terutama yang ada di ruang public seperti jalan dan tempat2 umum disamping akan membatasi peredaran iklan juga akan membuat bersih tampilan kota. Bagi yang melanggar larangan maka harus ditindak tegas.

Dengan dibatasinya space iklan saya yakin akan memotong biaya iklan yang dikeluarkan dalam setiap produk, sehingga harga jual produk akan semakin murah dan itu sangat meringankan.

Namun seiring kebijakan otonomi daerah maka banyak daerah justru berlomba meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang pastinya berimbas pada kantong “mereka” salah satunya dengan membebaskan iklan terpampang dimana-mana membuat mata yang memandang jadi risih.

Maka dari itu dari kolom kecil ini saya ajak temen-temen atau orang pemerintahan yang masih mempunyai nurani untuk berfikir kearah kebaikan bangsa terutama rakyat kecil yang hidup sengsara.

Komentar
  1. Yella Ojrak mengatakan:

    Iya bener. Malah, saya pernah dengar dari praktisi periklanan, katanya dari total biaya produksi suatu barang atau jasa, yang 50% adalah biaya iklan. Jadi permen yang dijual Rp.100, biaya produksi aslinya cuma Rp.35. Yang 65 …35 buat ngiklan, yang 30 keuntungannya. Ga tau juga sih sebetulnya kaya apa… Hehehe…

    Kamu pinter ya!

  2. suklowor mengatakan:

    Boss bisa saja… jadi malu :”>

    Makasih ya Boss dah mau mampir.. oh iya berkat saran boss puisiku dah tertata lebih rapi kan… ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s