LEMBAGA SERTIFIKASI CALEG (dipaksa PARODI 6)

Posted: 17 Desember 2008 in PARODI
Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,

LEMBAGA SERTIFIKASI CALEG (dipaksa PARODI)

Sebuah Peluang Bisnis Baru

Kalau membaca koran harian Kompas tanggal 14 Desember 2008 halaman 17 & 18 ditambah dengan melihat ilustrasi komiknya SM Sudarta, terlintas di fikiran saya sebuah peluang bisnis baru yaitu LEMBAGA SERTIFIKASI CALEG, ya semacam ISO, ICSA, Lembaga Akreditasi Nasional, atau level kecilnya Ijazah Tukang Pijit Tuna Netra.

Kenapa saya berfikiran bisnis semacam ini menggiurkan ? bayangkan saja menurut data yang disampaikan kompas akan ada kurang lebih 460.000 caleg yang akan berebut korupsi (eh.. salah kursi, salah nggak sih…?) di DPR pusat, tingkat I atau tingkat II, mereka saat ini sedang berlomba untuk menampilkan diri sebagai yang terbaik untuk di pilih. Dengan selogan dan jargon yang hampir sama, (yah… semacam kecap No. 1,) nggak ada kreatif-kreatifnya sama sekali (ini konyol untuk diri mereka sendiri saja nggak kreatif apa lagi untuk bangsa dan Negara) apa lagi cara maen mereka pun sama pakai spanduk, baliho, famlet yang dipajang di semua sudut jalan yang akhirnya menjadi sampah visual.

Karena kesamaan bentuk iklan itulah maka masyarakat akan bingung memilih, apakah mereka sama seperti yang di citrakan, atau hanya tipudaya belaka, seperti yang terjadi sejak dulu kala, jadi jangan sampai masyarakat dalam memilih seperti memilih kucing dalam karung.

Berdasarkan alasan diatas maka muncullah ide pembentukan bisnis LSC ini.

Secara tehnis saya akan mencoba menjabarkan bagaimana mekanisme kerja bisnis ini:

Bisnis ini akan bekerja atau berfungsi untuk memberikan label pada para caleg dengan kriteria :
A = nilai 81 s/d 100 (sangat bagus)
B = nilai 61 s/d 80 (bagus)
C = nilai 41 s/d 60 (sedang)
D = nilai 21 s/d 40 (buruk)
E = nilai 0 s/d 20 (sangat buruk)

Dari mana nilai-nilai itu dihasilkan? Nilai dihasilkan dari penilaian yang didapat dari survey yang dilakukan atas criteria misal: jujur, adil, aspiratif, cerdas, agamis, sabar, inisiatif, KKN di masa lalu, dll

Contoh Misal Si – A menurut hasil survey memiliki nilai masing-masing:

(1) Jujur = 50, (2) Adil = 70, (3) Aspiratif = 30 , (4) cerdas = 90, (5) agamis = 20, (6) sabar = 80, (7) inisiatif = 90, (8), KKN di masalalu = 5 dari hasil ini kemudian di jumlahkan, seterusnya di bagi rata : (50+70+30+90+20+80+90+5)/8 = 54,4 maka dengan nilai ini si – A mendapat label C. gampang kan? Sehingga dengan grade ini masyarakat bisa dengan mudah memilih jadi tidak ada lagi acara salah pilih..

lalu karena ini masalah bisnis maka pasti ada yang bertanya darimana keuntungan yang bisa menghasilkan uang?

Yang pertama : cara ini mungkin susah dan perlu perjuangan, yaitu dengan meminta bantuan lembaga donor baik dalam negeri maupun luar negeri yang sekarang sedang getol-getolnya memperjuangkan demokratisasi di dunia, meski sulit cara ini bisa menjamin lembaga ini benar-benar independent dan hasilnya bisa dipertanggung jawabkan, saya fikir pemerintah wajib campur tangan dalam mendanai lembaga ini..

Cara kedua : cara ini lebih gampang dari cara yang pertama, tapi dijamin sangat menguntungkan, yaitu dana diambil dari calon legislatif yang mendaftarkan diri untuk dilabeli (aku jadi teringat hewan kurban.. he..he..) jadi setiap calon legislative yang daftar dikenakan biaya 1 juta rupiah, bayangkan kalau setengah saja caleg mendaftar Rp 230 Milyar uang sudah di tangan. Dan saya fikir hampir semua caleg mau mendaftar, karena itu adalah media promosi paling efektif saat ini, bayangkan kalau biasanya jargon baik datang dari diri sendiri dan itu susah di buktikan, sekarang lebel baik datang dari lembaga “Independent” dan Cuma Rp. 1 juta, lha wong Money Politic (Politik Uang) yang puluhan sampai ratusan juta saja mereka sanggup kok, bener nggak?

Keuntungan berikutnya dari cara yang kedua ini adalah dengan menerapkan aturan “Kebijakan” seperti yang sudah sering terjadi… missal SI-A kriteria kejujuran mendapat score 50 point, si – A pasti celeng melihat angka itu, kemudian dia akan merengek-rengek untuk dinaikkan misal menjadi 70 point, saat itulah lembaga ini memeras caleg, pasang tarif saja misal setiap kenaikan 10 point harganya Rp 1 juta berarti si – A harus membayar Rp. 2 juta, sekarang kita hitung lagi… Rp. 2 juta x 230.000 orang caleg = Rp. 460 Milyar itu baru kriteria jujur, belum lagi adil, agamis, cerdas dll..bisa trilyunan uang di dapat..

Lalu pasti ada yang nanya, kan kita perlu tenaga kerja untuk melakukan survey ? tenang saja kalau untuk kerjaan semacam ini gaji Rp. 500.000 s/d Rp 1 Juta pasti banyak yang mau, kenapa FEEnya BESAR COIiiiiiiiiiiii… (tahu sendiri lah) apalagi tngkat pengangguran sedang naik..

Jadi kesimpulannya bisnis ini sangat menggiurkan, sudah gampang, Pay Back Period nya singkat.. wah bisa cepet kaya… hayooo sapa yang berminat?

“WUAA…TENYATA OTAK GUE, OTAK MALING JUGA YA!!!!?)

Komentar
  1. bagusweda mengatakan:

    mas luar biasa kalkulasinya pasti ilmu keuangannya dapat A, kita sama tahu itulah birokrasi, sumbernya jalan uang.

    Replay :
    Biasa aja sih pak.. itulah sumber hancurnya birokrasi di indonesia.. parah.. saya cuman bisa bantu ngritik soal pelaksanaan monggo.. makasih pak..

  2. Tinggal direalisasikan he he

  3. hendra mengatakan:

    bagus juga….
    trus caleg mana yang mau bayar !

    # dikit saran aja, daerah tk I n II sekarang sudah tidak ada. Sudah diganti…(*maklum ini omongan wong hukum)

  4. rhinie mengatakan:

    ku lagi ga peka masalah ginian… ya maap

  5. suklowor mengatakan:

    @ Ersis W.A
    Semoga pak…
    @ Hendra
    Iya pho ndra? trus diganti apa?
    @ Rhinie
    Peka itu yang untuk soto itu ya😀
    @Semua
    Makasih..

  6. mnrp mengatakan:

    jadi kapan nih?
    bagian tim sukses aja dech..

  7. etikush mengatakan:

    Klo pengen daftar sekarang, daftarnya ke siapa?

  8. hendra mengatakan:

    diganti Propinsi dan Kabupaten / Kota

  9. suklowor mengatakan:

    @ Mnrp
    gue nyumbang ide aja deh.. trus nunggu royalti.. abis badan gue kecil, kan banyak calek yang anggota preman:D
    @ Etikush
    ke gua juga nggak apa2 itung2 nymbang orang miskin😀
    @ hendra
    Ah… prinsipnya nggak beda jauh,
    @ Semua
    Makasih

  10. BabaliciouS mengatakan:

    Tulisan ini tidak melanggar ToS barang sedikit pun, sayangnya kamu agak telat Wor soalnya di beberapa daerah politis berbasis grass root udah menjamur counter-business utk mematikan peluang bisnismu berkedok lembaga survey kualitas hidup penduduk padahal aslinya aksi black campaign terang2an partai banteng cingur putih. Mau jadi matador kesiangan?😈

  11. Yella Ojrak mengatakan:

    Huahahahaha! Eh, Wor, nanti kalo ada kabar pembentukan lembaga sertifikasi caleg, tolong beritau saya. Saya tak nglamar, jadi tukang ngesahkan sertifikat kan lumayan…

  12. Itmam Aulia mengatakan:

    wah… kureeenn… kureeenn… kuereeeenn.. pantes pemerintahan kita maju😦 rakyatnya yang cengap cengep🙂

  13. omiyan mengatakan:

    hehehehe lahan bisnis baru nih, cuman ntar bisa berimbang ga tuh penilaiannya apa dilihat dari tebal atau tidaknya heheheh

  14. suklowor mengatakan:

    @boss baba
    makasih.. atas pemberitahuannya ya boss.. soal saingan lembaga survey, sepertinya beda boss.. kalau lembaga surveykan tujuannya masih level partai.. tapi kalau LSC ini udah person misal : Paijo Grade-nya E,
    paijo : kok gue wor, E lagi ???
    Klowor : misal, jo..
    Paijo : Loe mau balas dendam, Parodi Radio celuk ye?
    Klowor : Dikit….
    @ Boss Yella
    Beres boss ntar aku rekomendasiin deh😀
    @Aulia
    Yah.. begitulah mas.. harap maklum..
    @Omiyan
    wah soal perimbangan sangat tergantung moral pengelolannya… betul nggak ?
    @ semua
    Makasih atas commentnya…

  15. N. Kahfi Hamzah mengatakan:

    emang benar tuh bang,buka aja lembaganya. entar lagi uda pemilu, aq ikut daftar yah?

    Replay :
    Pinginnya, cuman modal nggak cukup, modal dana & Fisik tentunya.. kalau dana mungkin bisa ngutang tapi fisik wah.. kacau, abis banyak caleg yang dari preman ntar aku di hajar habis dunk.. makasih kunjungannya ya….

  16. bintangcomp mengatakan:

    MAKSUD TERSELUBUNG CALON LEGISLATIF

    Pesta demokrasi 2009, pestanya calon legislatif merebut simpati rakyat. Calon legislatif berlomba merebut garis terdepan berjanji memperbaharui kehidupan.

    Namun, tatkala pesta itu usai dan mereka terpilih, anggota dewan mulai menampakkan kekakuannya. Tujuan utama mendapatkan kekayaan sebesar-besarnya melekat benar dalam saraf ingatan anggota dewan.

    “Tiada hari tanpa korupsi ” slogan wajib bagi mereka. Hidup tanpa korupsi bagaikan sayur tanpa garam atau dengan kata lain hidup tiada mengenal korupsi sama dengan mati di dalam hidup, itulah prinsip mereka. Mumpung jadi anggota dewan.

    Setelah itu,

    Aku hanya bisa diam!! diam!! diam!!

    Membawa semua penyesalan, menuju alam baka.

    sumber:www.asyiknyaduniakita.blogspot.com

    Replay:
    kata temenku kalau masuk dunia politik harus menerapkan prinsip 3T (Tegelan, Tipu-tipu, Tak punya perasaan)

    makasih dah berkunjung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s