MASALAH POLITIK UANG (artikel 18)

Posted: 7 Januari 2009 in ARTIKEL
Tag:, , , , , , , ,

MASALAH POLITIK UANG

(Fatal Kalau Sampai Dilupakan Mahkamah Konstitusi)

Mencermati paragraph terakhir opini Aurelius Teluma di harian Kompas, 30 Desember 2008 dengan judul “Menakar Kapasitas Keterwakilan Caleg” yang intinya menyatakan bahwa “dalam memilih calon Legislatif, kita harus mendengar suara tuhan melalui hati nurani”, saya setuju dengan pendapat ini namun hati saya gamang bahwa hasil pemilu tahun 2009 ini atau pemilu selanjutnya merupakan hasil dari pilihan hati nurani Bangsa Indonesia.

Besarnya pengaruh Politik Uang (Money Politic) menurut saya masih sangat signifikan, baik yang secara terang-terangan maupun yang terselubung, melaui sembako murah misalnya, coba kita runut dari sekala kecilnya pemilihan kepala desa bahkan kepala dusun yang notabene sudah dikenal karakter dan kebiasaannya karena memang berasal dari daerah pemilihan, dan meski hanya satu calon tanpa ada lawan, belum bisa memastikan bahwa dirinya akan menang tanpa mengeluarkan stimulus kepada pemilih untuk mendukungnya, itu baru level desa, kalau level nasional yang kurang lebih ada 460.000 calon yang akan bertarung tanpa bisa ketahuan karakternya, apa masyarakat mau memilih.

Maka jangan heran kalau tidak ada perubahan signifikan atas hasil pemilu selama ini, meski tidak membuahkan hasil yang bagus untuk bangsa, mereka tetap saja memilih partai atau caleg yang gagal tersebut, meski tidak dipungkiri bahwa hasil ini merupakan cerminan loyalitas kader, tapi loyalitas kader terhadap partai seperti yang tergambar diatas, tidak akan berpengaruh besar terhadap pemilihan caleg.

Hal ini melengkapi opini Ahmad Syafii Ma’arif di Kompas, 30 Desember 2008 dengan judul “Th 2008, 2009 dan Bagaimana Selanjutnya” dikolom kedua Ahmad Syafii Ma’arif menyatakan bahwa “kelemahan keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan ketentuan nomor urut caleg sebagai pemenang, dan menetapkan prinsip suara terbanyak sebagai pemenang. SM menjelaskan bahwa sisi negative keputusan tersebut harus dipikul kader yang tidak popular, sekalipun misalnya telah bekerja keras siang dan malam untuk partainya, pemilu system baru ini yang akan beruntung adalah mereka yang mendapat dukungan luas

Yang di jelaskan Ahmad Syafii Ma’arif tersebut mungkin benar, tapi menurutku tidak memiliki efek yang signifikan terhadap bangsa ini.

Menurutku ada satu titik lemah lagi yang lebih penting untuk di perhatikan dibanding yang diatas tersebut, yaitu caleg yang punya modal besar dan memiliki moralitas dipertanyakan (karena mau menyuap rakyat / menganggap halal kolusi dengan Money politik-nya) dialah yang beruntung sedangkan Caleg yang memiliki moralitas baik (tidak mau menyuap pemilih) meski dia di tempatkan di nomer urut teratas oleh partainya akan hanya gigit jari dan secara otomatis akan lenyap entah kemana, hal ini akan memperbesar dan mempercepat bangsa ini hancur, KARENA AKAN SEMAKIN BANYAK PEMIMPIN NEGERI INI YANG TIDAK BERMORAL.

Kecuali pemerintah melalui KPU dan PANWASLU mampu menjamin tidak adanya Money Politic di pemilu yang akan datang, tapi sepertinya mustahil, kenapa, karena justru kadang pemilih (rakyat)-lah yang meminta adanya Money Politic, sebagai contoh waktu saya ngobrol di sebuah warung di pantai Patehan Yogyakarta, minggu yang lalu, ada ungkapan dari teman ngobrol saya yang juga pemilik warung “Nak ora ono Nyep-nyepe, yo rasah milih” (kalau nggak ada dingin-dinginnya (uang), ya nggak bakal memilih), tapi ungkapan ini juga bisa dimaklumi, sebagai ungkapan jengah terhadap DPR atau partai yang selama ini mereka dukung, karena setelah jadi DPR mereka melupakan janjinya, jadi masyarakat merasa wajar jika daripada diminta setelah DPR jadi juga nggak bakal keluar, mending di minta sebelum jadi saja.

Saya tidak tahu apakah Mahkamah Kostitusi (MK) menggunakan hal diatas sebagai salahsatu faktor pertimbangan dalam penetapan keputusannya atau tidak. Kalau misal tidak, ya.. kita tinggal tunggu proses kehancuran bangsa ini ke depan..

Nah kalau bangsa ini dah hancur Rakyat kecil macam saya ini tinggal nyanyi bareng2 lagunya Iwan Fals yang judulnya “Ancur” begini syairnya :

Bangsa ku ancur…
Berserakan, berhamburan
Kayak jeroannya binatang

Yaa. Suuuudah..
Kumenagis seadanya
Sekuat tenaga….

Yaa.. Suuudaaaaaaaah lah…
Kau memang Setan alas
Nggak punya prasaan….

Danchooooooooooooooook…!!!

Do’a ku..
Disaat sidangmu..
Smoga *** dikutuk tuhan
Biar terus mampus….

Tanpa mengurangi rasa hormat pada bang Iwan dan Oi-nya ma’af lagunya saya modifikasi sedikit, maaf ya…

Komentar
  1. bagusweda mengatakan:

    betul mas,membuat aturan dilihat dari positip,negatip.saya merasakan rakyat apatis,seolah olah tidak tahu kapan pemilu.suasana 2009 berbeda.

    Replay:
    Trimakasih dukungannya..

  2. cebong ipiet mengatakan:

    *ekting mudeng*

    hmmm hmmmm ooo gitu ya mas

    muub, diriku sudah dikategorikan apatis, tapi tidak anarkis, dan selalu tetap manis

    *yg trakir itu fitnah pada diri sendiri*

    Replay:
    Fitnah yang mengandung kebenaran…

  3. etikush mengatakan:

    Komentar saya adalah mungkin jika saya menjadi caleg, kelakuan saya juga gak kan jauh beda…

    Dan mungkin klo saya menjadi MK, saya akan mengambil keputusan yang lebih buruk dari MK….

    Reply:
    untung etikush bukan Caleg dan bukan MK, bisa hancur minah (lagunya kang DulSumbang) hancur lebur, babak belur, pecah belah, rata dengan tanah, Babak Bundas..dll..

    Dan klo saya jadi pemilik warung di pantai Patehan Yogyakarta, mungkin saya akan menjual bir kocok disana….
    hehehe….

    Replay :
    Kalau yang ini hick..aku setuju..hick biar hick gue mabok hick..ampe celeng.. hick..he..he.. hick

  4. etikush mengatakan:

    emang sejak kapan sih bir kocok bikin mabok?
    au… ah…

    Replay:
    Jangankan Bir Kocok, Air Putih aja kadang guye teler…😀

  5. bocahkureng mengatakan:

    Setuju dengan @etikus, saudara saya ada yg di kejaksaan. Dulu dia orgnya baik, tapi sekarang kok waduh g karuan. Ternyata lingkungan dan sistem berpengaruh terhadap perilaku manusia. Kalo sistem dan org-2 yang jadi pemipin udah amburadul, harapan kecil deh mas terjadi perubahan. Soal money politik, g usah lihat yg gede-2, di lingkungan RT-ku saja udah banyak yg kusaksikan. Pilgub Jatim kemarin saja, aku lihat sendiri ada yg bagi-bagi, ssssstttt jangan bilang siapa-2 ya!

    Replay :
    Begitulah kenapa saya belum tertarik, atau bahkan tidak tertarik masuk ke Area birokrasi, bahkan selama ini saya belum pernah sekalipun ikut PNS..

    Soal Money Politic… kenapa banyak calon yang nggak terima jika kalah, ya karena mereka telah merasa mengeluarkan banyak uang

    makasih dah mampir dan membaca Opini saya… salam kenal

  6. kenuzi50 mengatakan:

    kalau money pilitic, jadi tren gara-gara putusan MA. Duh, bagaimana nasib bangsa ini kedepan.?? Saya setuju apa yang di sampaikan Safii Maarief, udah kerja siang malam besarin partai, eh,… yang dapat yang partisan biasa…. kacian deh luh…..

    Replay:
    kalau soal Syafi’i Maarif.. No. Comment deh… saya bukan orang partai, dan saya nggak peduli dengan partai… saya mencoba berfikir global saja…

    Makasih dah berkunjung dan memberi respon

  7. rhinie mengatakan:

    “Nak ora ono Nyep-nyepe, yo rasah milih” (kalau nggak ada dingin-dinginnya (uang), ya nggak bakal memilih)….. kasih es ja biar dingin mau ga???? hehehe

    Replay :
    kalau es doank kagak mau… harus ada sate nya…

  8. cebong ipiet mengatakan:

    loh ya durung apdet, wes gatel drijiku pengen ngetik komen ki loh

    Replay:
    mengko awan.. yo… tak kabari wis….

    oh iyo.. aku kirim koment neng blogmu wit mau ra mlebu2 ya… wis 15 menit pdahal…

  9. etikush mengatakan:

    @bocahkureng
    makasih udah setuju ama saya…

    klo saya jadi pemilik warung di pantai Patehan Yogyakarta, mungkin saya akan mentraktir kamu bir kocok
    hehehe…

    Replay:
    Gue ikut… gue sensitif dengar kata2 traktiran…Maklum anak kost hehe..

  10. etikush mengatakan:

    boleh aja…. gw kan orang baik…
    hehehe…
    tapi palingan modal bikin warung nya dapet korupsi, gapapa…. gw ini kok yang korupsinya…
    hehehe…

    Replay:
    Kan gue bisa pura2 nggak tahu…😀

  11. Rico mengatakan:

    Money politik itu kan awal dari lahirnya koruptor2 baru di legeslatif,,,ya tamatlah riwayat kita kalo tiap penentuan/pembentukan regulasi bangsa ini 5 tahun kedepan di serahkan pada para koruptor..hick..hick…gmn nasib kamiiiiiiiiiiiiiiiiii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s