Si PARODI bertanya: “MANA KELEDAI, MANA MANUSIA?” (Parodi 8)

Posted: 13 Maret 2009 in PARODI
Tag:,

Titipan Parodi dari seorang teman :

Si PARODI bertanya: “MANA KELEDAI, MANA MANUSIA?”

Kocap kacarita di jaman dahulu hiduplah …… halah belum-belum dah ngelantur.. Di jaman modern ini (kata orang sih) kita terbiasa hidup berkoloni (eh ini seh dari dulu kang…dari jaman purba), koloni ini ada dimana-mana di Mall, café, rumah pemenang arisan, dan di warung kucing/hik/koboi (banyak banget ya istilahnya).

Nah alkisah nongkronglah sepasang sahabat yang sedang berdiskusi di warung kucing (caileee ga elit banget diskusi di warung kucing). Sebutlah sepasang kekasih eh salah sahabat ini bernama Rio dan Ortega.

Mereka sedang berbicara ngalor ngidul dari soal fashion hingga politik, dari soal cewe hingga olahraga, bahkan tentang filosofi dalam pengambilan keputusan. Nah yang sempat ku simak obrolan mereka ya soal pengambilan putusan ini, dimana putusan harus bisa memuaskan semua pihak (mustahil ya..), harus cepat dan tepat.

Dalam obrolan mereka yang terekam lekat dalam otakku adalah cerita mengenai seorang bapak yang baru saja membeli seekor keledai di pasar hewan bersama anaknya yang masih balita. Mas Rio(anak ini orangnya cakep tapi susah dalam mengambil putusan-orang bilang ragu-ragu) bercerita sepulang dari pasar bapak ini menggandeng keledai dan menarik anaknya eh kok salah lagi, menggandeng anaknya dan menarik keledai. Mereka berjalan bersama, dalam perjalanan mereka ketemu dengan teman kantornya (sebut paijo). Paijo ini berkomentar “lho kalian ini bodoh sekali…..mbok keledai itu dinaiki saja. Apa kamu tidak kasihan sama anakmu yang masih kecil?” Emmmm betul juga ya…..sahut sang Bapak maka diangkatlah sang anak dan dinaikkan pada punggung keledai.

Mereka berjalan lagi (eh sang anak tetep berjalan loh diatas keledai – mungkin gak ya?), terus bertemu lagi ama tetangga belakang rumah yang bernama Klowor. Klowor berkomentar “Dasar anak tidak tahu diri, masa enak-enakkan nyantai sambil ngegame HP sementara bapaknya jalan kaki ?” anaknya jawab “ sapa yang nyantai? Ini ku sambil mikir tahu!” Emmm iya ya….aku salah dalam mendidik anak, bisa-bisa kelak anak ini kan kurang ajar dan durhaka sungut sang bapak. Sang anak diturunin dan dia yang naik ke atas keledai.

Mereka berjalan lagi (kali ini bapaknya yang maenan game HP di atas keledai he he he). Beberapa ratus meter sebelum sampe rumah mereka ketemu sang ibu dari anak ini.
Sang ibu marah-marah, diambilnya batu dan dilemparkan ke sang bapak disertai umpatan, “ dasar orang tua ga tau diri, orang tua ga punya sopan santun, ga punya otak, udah tahu anaknya jalan juga ga kasihan!!! Mbok tadi anaknya diajak naik bareng atau kalo keledainya ga kuat kan bisa cari pick up?!!!
Gantian sang bapak yang marah-marah karena dari tadi disalahin mulu dalam ambil putusan, enak aja naik pick-up orang tuk beli keledai aja harus jual jam dan sepatunya kok buat nambahin uang pemberian istrinya……

Mas Ortega (anak ini lumayan cerdas meskipun tidak peka terhadap lingkungan) mantuk-mantuk mikir…..Lalu dia berkomentar, “ berarti kita dalam mengambil keputusan tidak usah memandang kepentingan orang banyak saja ya? Karena apapun putusan kita pasti ada resikonya,pasti ada saja orang yang tidak puas, pasti ada saja yang marah dan protes. Mending dalam ambil putusan kita lihat hati kita, pikiran kita. Don’t care dengan omongan orang, toh bener apa salah putusan kita, kita juga yang menanggungnya….orang lain ga kan mau tahu jika kita susah dan akan sirik melihat kita bahagia.”

Mas rio gantian yang manggut-manggut, bener juga ya….meskipun susah dilakukan di bumi INDONESIA, soale western banget dah. Apa jangan-jangan mas Ortega ini orang Argentina ya? (lho piye tho jare sahabat moso ra ngerti asal usul sahabatnya?)

Tapi kalo direnungkan (lepas dari budaya barat atau timur) jika kita dalam ambil putusan apapun dilandasi dengan hati dan jiwa (apalagi cinta-caileee) serta tidak bertentangan dengan hukum positif dan kita siap pertanggungjawabkan semua keputusan, menurutku itulah putusan yang terbaik, karena tidak mungkin suatu keputusan bisa puaskan semua pihak, pasti ada saja pihak yang merasa dikorbankan, merasa tidak adil dsb.

Komentar
  1. etikush mengatakan:

    keledainya digotong aja berdua,
    kalo ada yang nanya,
    bilang aja lagi latihan angkat beban

    Replay:
    setuju… habis itu di sate.. ehm yummi…

  2. rhinie mengatakan:

    wah pak eming dpt royalty donk namanya disebut2..
    dunia ni makin byk yg plin plan… jangankan orang cuaca ja kadang puanas kadang dingin tiba2..

    Replay:
    yang harusnya dapat royalty aku… kan ini tulisan pak eming..

    iya banyak yang plin plan.. kadang ada siang kadang malam.. (ini termasuk nggak ye…??

  3. geRrilyawan mengatakan:

    wah memang susah kalo putusan harus menyenangkan semua pihak…
    jadi sudah jelas ya sodara-sodara, toleransi harus lebih tinggi, memperkuat empati, dll….jangan berantem dan protas protes lagi kalo nggak kepilih (buat yang ikut pilkada dan kroco-kroconya)

    Replay:
    Sendiko dawuh mas gerilyawan…

  4. shalimow mengatakan:

    apa kabar mas
    wah apik tenan postingge

    suwun yo

    Replay:
    Alhamdulillah baik mas

    makasih ya…

  5. suwung mengatakan:

    cerita tersebut yang mengilhami diriku untuk cuek bebek akan pendapat orang lain

    Replay:
    Gampange “Gelem Karepmu, ragelem matamu.. ups karepmu juga ding” yo ra mas suwung…

    makasih ya..

  6. yoan mengatakan:

    yupz, bener banget om.
    keputusan yg kita ambil ga mungkin bisa memuaskan semua pihak.

    emang kita alat pemuas apah…

    :peace:p

    Replay:
    iya kita kan bukan pemuas… wong rambut saya kriting kok untuk ngecat.. ya susah ya nggak mas..

  7. hmcahyo mengatakan:

    mas mampir aja😀

    Replay:
    Makasih pak dah mampir…

  8. iwan mengatakan:

    met kenalan yah…..
    bolehkan…..

    Replay:
    Dengan senang hati mas…

    makasih dah mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s