GAUN PENGANTIN MERAH (cerpen 3) bag. 1

Posted: 29 Juli 2009 in CERPEN
Tag:, , , , , , , ,

GAUN PENGANTIN MERAH bagian 1

Dia pandangi lagi gaun pengantin warna merah yeng sejak tiga tahun lalu mengiasi lemari baju di pojok kamar tidurnya, ada berjuta rasa menyelinap susul menyusul diantara reruang kalbu yang serasa telah membeku atau mungkin telah membatu, ada ribuan cerita terselip saling selinap diantara benak saat memandang baju itu.

Cerita pertemuan tidak sengaja dengan seorang pemuda rupawan sopan dan halus budi pekertinya, ya di bus kota waktu aku pulang kuliah, awalnya aku duduk sendiri entah mengapa setiap ada penumpang yang naik tidak mau duduk di sebelahku, entah itu wanita atau laki-laki baik bapak-bapak maupun ibu-ibu, perasaan waktu itu tidak ada yang salah dengan diriku tapi entahlah.

Sampai separo perjalanan dari kampus ke kost ku, belum juga ada orang yang mau duduk di sebelahku, aku sih asik asik aja selain tempat duduk menjadi longgar, aku juga bisa dengan leluasa membaca novel berjudul Three Cups Of Tea yang baru aku baca sebagian saja, sebuah novel dari kisah nyata seorang Amerika bernama Mortenson yang hampir mati saat pendakian di Himalaya karena tersesat namun akhirnya selamat berkat pertolongan warga desa Korphe di lereng Himalaya, karena ketulusan hati para penduduk desa muslim yang benar-benar menerapkan konsep Islam sebagai Rohmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), yang menolong tanpa pamrih meski yang ditolong bukanlah seorang muslim, ini sangat berbeda dengan pemikiran teroris yang melakukan serangkaian teror bom di Indonesia. hingga membuat si Amerika simpati dan sampai sekarang sudah membangun lebih dari 50 sekolah di desa-desa lereng Himalaya sebagai rasa balas budi sekaligus reaksi atas keterbelakangan masalah pendidikan yang terjadi di Desa yang mungkin tidak pernah tercetak di peta manapun juga, sebuah novel yang luarbiasa berhasil menyentuh bahkan menguliti sisi humanisme manusia.

“Assalamu’alaikum, Bolehkah saya duduk disini” seorang pemuda rupawan dengan sanga sopan meminta ijin untuk duduk di sebelahku, “Waalaikum’salam, Silahkan” jawabku singkat sambil menyempatkan diri memandang sekeliling dan ternyata memang hanya kursi di sebelahku ini lah yang tersisa.

Kemudian dia duduk, sangat kelihatan bagaimana dia menjaga jarak diantara aku dan dirinya, agar tidak bersentuhan, itulah yang membuat aku terkesan, zaman sekarang masih ada cowok sesopan ini, tidak mau bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya sempat berfikir untuk mengajaknya berkenalan tapi hati ini ragu karena aku wanita, sifat gengsi atau entah malu mungkin muncul saat itu.

Akhirnya aku hanya diam, sambil melanjutkan membaca novel di tanganku, meski sebenarnya fikiran ini sudah tidak bisa konsentrasi lagi membaca, ah biarlah nanti aku baca ulang lagi setelah sampai di kost, minimal mengalihkan rasa kikukku duduk di sebelahnya. Meski hati ini tetap berharap bisa kenalan, kalaupun tidak sempat tukar nomor Handphone, minimal tahu namanya saja sudah cukup, tidak lucukan cerita sama te man-teman kost, pasti habis aku di ejek mereka, tapi kalau aku nggak cerita kok ya gondok juga.

Waktu terus berlalu, laju bus yang sesekali tersendat padatnya arus lalulintas jogja yang mungkin sudah hendak muntah karena semakin banyaknya kendaraan baik mobil apalagi sepeda motor yang harus di telannya setiap hari, padahal tidak ada penambahan ataupun pelebaran ruas jalan, sehingga membuat jarak tempuh dari kampus menuju kostku begitu juga sebaliknya menjadi semakin panjang saja.

Satu bab telah selesai aku baca capek juga rasanya berpura-pura membaca meski Cuma sekedar mengalihkan grogi, atau mungkin lebih parah lagi, supaya kelihatan punya minat baca tinggi biar kelihatan cerdas.. ah entahlah

Tapi saat aku tutup itulah, dia menyapaku lagi, “Three Cups Of Tea, ya mbak?” tapi sebelum sempat aku jawab dia melanjutkan kata-katanya “ma’af nama saya Ihsan, boleh tahu nama mbak?” Dia tidak menjulurkan tangannya untuk sekedar bersalaman, dia hanya sekilas memandang sejenak, kemudian menunduk mengalihkan pandangannya pada buku yang saat itu aku pegang, sebenarnya aku cukup gelagapan karena terkejut oleh pertanyaannya, seketika ku jawab, “Nurul, iya ini Three Cups Of Tea” dari situ percakapan kami berajut, mulai dari isi dari novel itu yang ternyata sudah dia baca beberapa waktu lalu sampai beberapa topik menarik lainnya, termasuk masalah materi kuliah yang ternyata kami satu jurusan meskipun berbeda kampus.

Begitulah hari pertama perkenalan kami, mungkin sudah bisa di tebak kearah mana hubungan kami, kalau boleh di bilang pacaran ya kami pacaran, cuman cara pandang kami akan istilah pacaran berbeda dengan kebanyakan pemuda dan pemudi jaman sekarang yang mungkin sudah keterlaluan mulai dari berpegangan tangan, hingga yang parah sampai hamil di luar nikah, sedangkan kami memandang pacaran hanya sebuah ikhtiar untuk menjaga komitment saat kecocokan dan chemestry sudah ditemukan tetapi ada beberapa hal yang membuat kita belum bisa mengabadikan hubungan itu ke jenjang pernikahan yang di Rahmati Allah SWT. Terutama salah satu penyebabnya adalah karena belum adanya restu orang tua kami.
……….

bagai mana kelanjutan cerita ini? apakah restu itu bisa mereka dapat? KLIK DI SINI…

Komentar
  1. bluethunderheart mengatakan:

    pagi bang.
    senang rasanya blue menjadi yang pertamax………..hehee
    senang tentunya blue bisa dapat postingan abang lagi
    dan pastinya sangat senang karena abang sudah memiliki semangat hingga mampir ke rumah blue….but abang datang postinganku sudh ada yang baru hihihi..
    salam hangat selalu
    blue akan selalu menanti kelanjutan kisah ini.

    Replay:
    hehehe…. makasih mas blue

  2. hendra mengatakan:

    ok…ditunggu Bang Eko

    Replay:
    siap

  3. […] GAUN PENGANTIN MERAH (cerpen 3) bag. 2 Sambungan dari Bag. 1 […]

  4. etikush mengatakan:

    aduh……………
    kok yach jadi musim cerita islam2an begini sih?
    dari mulai film dibioskop…
    eh, gak nyangka cerpen loe juga ketularan virus islam2an…
    hehehe….

    Replay:
    bentar lagi puasa etikush…. tobat sebentar… hehe

  5. geRrilyawan mengatakan:

    lanjutkan…ke jilid 2 bacanya…

    Replay:
    Sip….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s