GAUN PENGANTIN MERAH (cerpen 3) bag. 2

Posted: 1 Agustus 2009 in CERPEN

Sambungan dari Bag. 1

GAUN PENGANTIN MERAH bagian 2

Kami sebenarnya sudah mencoba berbicara dengan orang tua kami masing-masing namun mereka menginginkan kami lulus kuliah dulu, bahkan orang tuaku menginginkan pernikahan kami dilaksanakan jika sudah mapan minimal mas Ihsan sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan.

Bukannya kami tidak berusaha untuk menjelaskannya termasuk bahwa rejeki ditangan Allah SWT, namun tetap saja mereka bersikukuh, dan kamipun berfikir untuk menurutinya dengan berpegang pada hadist Rasulullah SAW “Ridlollahi Fi Ridlo Walidaini, Wa Suqtullahi fi Suqtul Walidaini” Ridlo Allah tergantung pada Ridlo kedua orangtua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orangtua. Atas dasar itulah kami kemudian berpacaran sekedar menjaga komitmen sampai nanti saatnya orangtua kami merestui.

Meski status kami pacaran, kami tahu batasan yang tidak boleh kami langgar, jangankan berpegangtangan ngobrolpun harus bareng dengan teman-teman, mungkin kalau ingin sekedar berdiskusi masalah pribadi, kami melakukannya melalui SMS atau Telpon, tidak lebih dari itu.

***

Akhirnya saat-saat yang ditunggu datang juga, satu bulan setelah aku dan mas Ihsan wisuda, mas Ihsan mendapatkan pekerjaan meski belum seberapa gajinya, sedang aku selama menunggu pekerjaan, aku aktif menjadi pengajar TPA (Taman pendidikan Al Qur’an) di kampungku, sekaligus mengajar prifat beberapa anak mulai dari SMP sampai SMA, yang cukup lumayan hasilnya.

Bulan ke enam setelah wisuda akhirnya restu itu datang juga begitu gembiranya aku hingga saat sujut syukurku aku tak mampu menahan linangan air mata bahagia, rasa syukurku terlimpah, bagaimana tidak bahagia kami bisa segera melakukan perintah Rosulullah SAW. Melaksanakan sunahnya apalagi dengan orang yang dicintai.

***

Minggu itu tanggal 12 Januari 2006, sesuai janji Mas Ihsan bahwa dia akan mengajak kedua orang tuannya untuk datang kerumah untuk melamarku, kami sekeluarga sudah sibuk sejak hari sabtunya mempersiapkan tempat maupun hidangan yang hendak kami hidangkan, tidak lupa pula kami mengundang saudara dekat dan beberapa tokoh kampung untuk menghadiri acara ini.

Tepat pukul 09.00 WIB keluarga mas ihsan datang dengan membawa rombongan dua mobil, rumah kami menjadi ramai hatiku gembira tiada tara.

Sampai tiba saatnya aku ditanya, bersediakah aku menikah dengan mas ihsan, aku hanya tertunduk malu, grogi, kata-kata yang sudah aku siapkan sejak lama bubar seketika, dan akupun hanya sanggup mengangguk malu sekali rasannya, tapi sepertinya itu sudah cukup untuk mewakili kata kesanggupanku menikah dengan mas Ihsan, menjadi pendamping setia seorang laki-laki yang sangat menjaga agamanya, mendidik anak-anaknya kelak sampai tua.

Acara terus berlangsung dan tibalah saatnya pada penentuan tanggal akad nikah dan walimatul ars, keluargaku dan keluarga Mas Ihsan adalah penganut Islam yang kuat, kami percaya semua hari baik tanpa harus memperhatikan kepercayaan jawa yang memandang adanya hari baik dan hari buruk atau istilahnya adalah nogodino, namun kami mencoba berfikir jauh kedepan tentang efek yang lebih menghawatirkan kalau kami sembarangan memilih hari.

Di kampung kami masih banyak orang yang punya faham akan Nogodino tersebut, kami memilih senin kliwon tanggal 15 maret 2006, sekali lagi kami memilih hari itu bukan percaya pada hitungan nogodino, tapi kami tahu, bahwa selama perjalanan panjang pernikahan pasti akan ada beberapa hal yang tidak kami inginkan, misal sakit atau apalah, kami tidak mau orang-orang kampung kami kemudian menjadikan hal itu sebagai tambahan pembenaran akan prinsip nogodino yang mereka yakini, dan kalau itu yang terjadi, maka akan lebih banyak orang yang kadar kemusrikannya bertambah. Biarlah kami yang mengalah toh kami beranggapan semua hari adalah hari baik entah sesuai nogodino ataupun tidak.

Setelah acara hari itu, kami mendapat banyak kegiatan tambahan yaitu persiapan pernikahan, mulai menyiapkan undangan mencari gedung tempat resepsi yang cocok, mencari jasa catering sampai mencari gaun pengantin yang akan kugunakan di hari saat aku menjadi ratu sehari. Dan untuk masalah yang satu ini aku tidak mau main-main selain acara ini sekali seumur hidupku aku mau gaun pengantinku itu memiliki makna yang istimewa dalam hidupku.

Sekali lagi aku tidak mau main-main dengan gaun pengantin itu, harus sesuai dengan kaidah islam, maksudnya gaun itu harus menutup semua aurat ku, tentu saja harus pakai jlbab, dan untuk urusan warna aku bersikukuh untuk memakai warna merah karena menurutku warna itu melambangkan keberanian, yah keberanian dan tekat besar kami untuk memulai hidup baru sebagai suami – istri.

Dan karena itulah yang membuatku agak repot, karena tidak banyak perias temanten punya gaun penganten gaya muslim yang warna nya merah menyala, maka terpaksa aku sendiri yang harus men-design nya dibantu oleh bibiku yang memang seorang penjahit.

Ternyata tidak mudah merancang sebuah gaun penganten, aku sudah berkali-kali browsing di internet, membolak-balik majalah mode, tapi susah kutemukan referensi yang pas dengan keinginanku, meski akhirnya jadi juga, dan setelah dapat bahan yang kuinginkan langsung ku serahkan pada bibiku untuk di buat menjadi gaun.

Butuh waktu seminggu gaun itu jadi dibuat oleh bibiku, aku tahu kalau sudah jadi waktu bibiku SMS memberitahu bahwa bajuku telah selesai dia buat, dan ada sedikit rasa lega saat bibiku memuji rancanganku, kata dia “Denok ternyata kamu punya bakat menjadi perancang busana, buktinya setelah jadi gaun ini indah sekali, kamu pasti tambah cantik waktu mengenakannya” aku percaya saja omongan bibi sebab selama ini dia tidak suka basa-basi, kalau suka dia akan bilang suka, kalau nggak suka dia akan bilang nggak suka, “Ah Jadi Penasaran aku

Setelah mendapat SMS itu, seketika ku hubungi mas Ihsan untuk mengambilkannya untukku setelah pulang kantor nanti, memang sih tempat kerja mas Ihsan melewati rumah bibiku, apalagi saat ini aku tak bisa mengambilnya sendiri, semua motor yang ada di rumah dipakai, sedang aku sudah tidak sabar mencobanya.

***

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di cegah. Saat dalam perjalanan menuju rumah bibi, Mas Ihsan mengalami musibah, motornya tertabrak mobil yang pecah ban yang tak dapat dikendalikan, sampai masuk jalur berlawanan dan menabrak Mas Ihsan, begitulah cerita dari beberapa saksi yang ada di lokasi kejadian.
……….

Apakah yang terjadi setelah kejadian yang menimpa Ihsan? bagaimana kelanjutan rencana pernikahan mereka? silahkan KLIK DI SINI…

Komentar
  1. hendra mengatakan:

    ayo cepet Ko…jangan kelamaan yg ke tiga..malah penasaran ikiii..
    besuk senin yo? opo aq dikasih bocorane🙂

    Replay:
    hehe… mugo2 ra sibuk ya ndra….

  2. cantigi mengatakan:

    download aja ko, gpp. tinggal baca pake adobe acrobat ini, print boleh, baca aja boleh, hehehe…

    Replay:
    Ok mas…

  3. kezedot mengatakan:

    selamat malam mingguan bang
    kalau aku membacanya selaksa membaca novel pop ya mas
    ringan dan mudah di cerna…..enak tuk dibacanya
    salam hangat dalam 2 musimnya blue

    Replay:
    thanks mas

  4. SurauNet mengatakan:

    Sepertinya, ide cerita berangkat dari true story. Kalau betul seperti itu, sungguh kisah yang menggenaskan. ( SurauNet )

    Replay:
    bukan mas… ini cuman rekaan kok

  5. etikush mengatakan:

    wor, kenalin gw ama cowok yang pacarannya gak pake grapa-grepe dunkz….

    Replay:
    find by yourselves…. hehehe

  6. dobleh yang malang mengatakan:

    aku datang saat blue sedang gelisah nich……….beri kekuatan yah
    salam hangat selalu

    Replay:
    semangat mas blue………

  7. KangBoed mengatakan:

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku tersayang
    Mampir di malam hari menyapa sahabat baik

    Replay:
    Makasih Kang Boed….

  8. geRrilyawan mengatakan:

    lanjut ke seri 3…

    Replay:
    sip Lagi….

  9. Anonim mengatakan:

    like suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s