KETIBAN SAMPUR (artikel 27)

Posted: 13 Februari 2010 in ARTIKEL
Tag:, , , , , , , , , , ,

KETIBAN SAMPUR

(maaf tidak berniat mengeneralisir)

Ketiban sampur adalah istilah yang dipakai oleh orang yang di kalungi selendang oleh seorang penari dalam acara tayuban

Biasanya orang yang ketiban sampur akan di ajak menari di atas panggung, dan di tonton oleh banyak pengunjung. Bagi yang pintar menari hal ini bukan menjadi perkara yang merepotkan, tapi bagi yang nggak bisa menari apalagi pemalu wah bias di jadiin bahan ketawaan banyak orang

Belum lagi kalau mereka harus mengeluarkan uang untuk “nyawer” (memberi uang untuk penari) iya kalau pas bawa uang, kalau pas tidak bawa uang kan jadi berabe, sudah di jadiin bahan ketawaan setelah acara masih di rasani (di gosipi) oleh para penari. Ah ternyata si-A itu kelihatannya Tajir tapi pelitnya minta ampun, jangan-jangan emang kere dari sononya, tapi berlagak aja kayak orang kaya. Dan namanya gossip sama seperti flu babi menyebarnya luarbiasa cepat.

Begitulah mungkin kalau kita menggambarkan dunia pertelevisian negeri ini sekarang. Televisi yang menjadi penari siap menibankan sampurnya kepada siapa saja terutama tokoh public, baik artis, pejabat atau siapa saja. Asal bisa menambah rating penonton, dan kemudian menarik iklan sebanyak-banyaknya, sama seperti penari tayub yang ingin mendapat saweran sebanyak-banyaknya, peduli itu istri orang yang penting perlente, sikat!! Perkara dia suka grepe-grepe asal sakunya tebel ah peduli setan!!

Dan konyolnya mereka seperti tidak punya control ; Lembaga Perlindungan Konsumen (diam saja), Lembaga Penyiaran (seperti tidak peduli), DPR (sibuk mengurusi urusan politik golongan), MUI (kemana Fatwa2mu?) LSM-LSM Hak Asasi Manuasia (nggak kedengaran suaranya) al hasil akan semakin banyak korban terutama artis yang akan di obok2 (istilah Joshua) masalah prifasinya yang seharusnya merupakan bagian dari Hak asasi nya sebagai manusia, tidak perduli itu punya fakta yang kuat atau berita yang sengaja di hembuskan tanpa dasar sama sekali.

Dan jangan sampai dilupakan tentang kemukinan rusaknya moral bangsa yang terseret arus moderenisasi ala barat, terutama untuk kaum muda penerus generasi bangsa.

Meski mungkin ini adalah bagian dari Kebebasan Press yang sempat mati di jaman Orde baru, tetapi jangan sampai kebebasan ini kebablasan, yang akhirnya melupakan tujuan akhir dari penyampean berita menjadi tidak lagi memberikan gambaran kepada masyarakat tentang kejadian yang sesungguhnya terjadi dan kemudian menyeret Opini Publik ke arah yang salah.

Saya hanya bisa berdoa, dan mencoba menyentuh hati pembaca untuk sedikit berperan minimal kalau ada acara-acara televise yang tidak laik tonton, jangan di tonton, blokir acara itu dari daftar agenda tayangan anda, sehingga dengan sendirinya rating nya turun, dan kalau rating turun dengan sendirinya pula acara tersebut akan di hentikan..

Semoga berguna…

Komentar
  1. suwung mengatakan:

    ooo kasus mbak luna ya mas?

    Replay:
    hehe.. iya… tapi telat.. maklum suwe ilang semangat ngeblog-e mas..

  2. d2xman mengatakan:

    merdeka hehehe…

    • Widiarty Hartanto mengatakan:

      Saya rasa berita itu hany untuk mengalihkan perhatian masyarakat saja,,terhadap sesuatu yang lebih penting,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s