BANGSA SENDIKO DAWUH

Posted: 26 Juni 2010 in ARTIKEL
Tag:, , , ,

BANGSA SENDIKO DAWUH

ASAL BAPAK SENANGSaya punya pengalaman yang aneh mungkin, pernah saya mendemo seorang dosen, yang menurut saya kurang bener cara mengajarnya, yang mengandalkan hafalan pelajaran, bagi siapa yang kemampuan hafalannya bagus maka nilainya akan bagus, yang pola fikirnya tidak mengandalkan hafalan (mengandalkan logika) nilainya jelek, ada bukti lain, yang mendapat nilai bagus-bagus adalah mahasiswa yang memiliki indek prestasi komulatif rendah, sedangkan mahasiswa yang memiliki IPK bagus, malah dapat nilai jelek, dan itu juga terjadi di 2 mata kuliah sebelumnya yang dia ajarkan.

Protes saya itu saya tulis di balik lembar jawaban ujian mata kuliah Management Pemasaran (mata kuliah ke-3 di kelas kami yang dia ampu), pelajaran yang seharusnya sangat mengandalkan logika berfikir sehingga sering orang mengatakan ilmu Managemen itu sebagai Seni, tapi tidak dengan dosen saya tersebut, dalam ujian itu dosen memberikan lembar soal sekaligus lembar jawaban jadi satu, jumlah baris yang di sediakan untuk jawaban pun sesuai dengan jawaban yang menurut dia benar. Misal soal no. Satu cukup jawaban 2 baris maka dia hanya menyediakan dua baris tempat jawaban, padahal jawaban oleh mahasiswa di tulis tangan, dan kita tahu tulisan tangan manusia tidak sama satu orang dengan orang lainnya.

======
Isi dari protes saya tersebut kurang lebih begini:
Bapak saya tidak setuju dengan konsep pengajaran yang bapak terapkan, kita bukan lagi anak TK, SD, SMP, atau SMA yang yang harus masih memakai konsep hafalan, dan sebenarnya konsep hafalanpun sudah tidak relevan lagi di terapkan dalam konsep pembelajaran di indonesia mengingat kapasitas penyimpanan memori pada otak manusia dan berapa lama memori bertahan tidak akan seberapa.

Selain itu konsep hafalan atau sepenuhnya percaya pada buku, sama artinya kita mengebiri kemampuan fikir manusia untuk selalu berkembang, belum lagi hal semacam itu bisa membunuh pola berfikir kritis penerus bangsa, dan hasilnya kita bisa lihat, selama 32 tahun kita di jajah oleh bangsa sendiri (penguasa) tanpa berani melawan, yang ada justru terus menerus mengikuti pola sendiko dawuh, asal bapak senang seperti kerbau dicocok hidungnya.

Apalagi dunia semakin cepat berkembang butuh kreatifitas tinggi untuk menjadi yang terbaik, atau sekedar mengikuti parkembangan dunia yang semakin dinamis seperti sekarang.

Jadi bapak, sekali lagi mohon mempertimbangkan usul saya tersebut. Terimakasih.
======

Saya nggak tahu apakah beliau mengubah pola ajarnya seperti yang saya usulkan, atau pun tetep pada pola ajarnya, karena setelah itu tidak pernah lagi beliau mengajar di kelas kami.

Saya berani memprotes dia seperti itu, tanpa mempertimbangkan efek pada nilai saya yang sudah di pastikan jeblok, karena saya melihat hal itu sangat baik untuk kemajuan bukan cuma saya, tetapi bangsa ini, kalau tidak saat ini kapan lagi, sekarangpun meski kita telah mengalami jaman reformasi selama 12 tahun tapi efek dari doktrin sistem pendidikan dimasa lalu masih sangat terasa, doktrin yang mengharuskan siswa tunduk patuh pada guru, kata guru A maka murit A, padahal masih ada obsi B,C dan atau yang lain, yang pasti akan mengimbas pada kebiasaan anak buah untuk tunduk pada atasan, dan ini yang mengakibatkan korupsi subur di tanah air, sebab bawahan tidak akan berani menegur atau mengingatkan pimpinan yang korup, bahkan banyak bawahan yang sebenarnya memiliki hati nurani yang luhur, tidak mau korupsi jadi dipaksa ikut korupsi, dan kalau itu sudah jadi kebiasaan maka nurani luhur pun luntur dengan sendirinya.

Jadi dari pada kita hanya mengandalkan KPK yang semakin lama makin kempis, karena terus saja di gembosi oleh penguasa, lebih penting lagi kalau kita mulai berfikir bagaimana membenahi pola pengajaran di setiap jenjang pendidikan di tanah air tercinta ini.

Bukankah ada pepatah bilang “lebih baik mencegah dari pada mengobati”

Semoga ada yang tergerak dengan tulisan saya ini…

Komentar
  1. hendra mengatakan:

    pola pikir manusia akan senantiasa berkembang sesuai dengan usia, lingkungan sosial dan semua masukan yang dialami dalam hidupnya. Alangkah naifnya apabila seorang mahasiswa “dibelenggu” dengan sebuah ukuran yang dibuat oleh “orang yg belum tentu sesuai”.

    Nuwun.
    * Hafalan memang perlu untuk dijadikan landasan, tetapi bukan sesuatu yang mutlak.
    ** Pola pemasaran setahun yang lalu, pasti akan berbeda dengan pola pemasaran saat ini (at least itu juga yg saya alami)

  2. An mengatakan:

    Saya setuju . Perbaikan moral anak bangsa harus dimulai dari pendidikannya.
    Kita sangat berharap banyak pada generasi penerus bangsa yang bermoral dan jujur.
    Mau jadi apa bangsa kita kalau gini terus?

  3. An mengatakan:

    Oh ya, pak dosennya kenapa nggak ngajar lagi?

  4. kidungjingga mengatakan:

    dosen seperti itu rasa2nya selalu aja ada mas… membutuhkan “suklowor2” lain nih, yang berani protes…
    saya setuju dengan pemikiran bahwa pendidikan sebenarnya sangat memungkinkan untuk dijadikan pondasi untuk pembentukan moral… maka juga dibutuhkan guru/dosen yang tidak hanya mengajar, tapi juga sekaligus mendidik.

    (mudah2an ini semacam pertanda, kalau saya ga lupa mas.. hihi…)

  5. krupukcair mengatakan:

    dosennya suruh belajar lagi saja.. mulai dari SD lagi….

  6. bagusweda mengatakan:

    mas,sdh tdk laku lagi mengajar model begitu,dosen /guru tugasnya mengarahkan,membingbing dan akhirnya merangsang supaya siswa lebih kreatip dan mandiri. menanamkan nilai ke jujuran di bangku sekolah /kuliah akan meberikan nilai positif pada anak didik saat bekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s