AWAN CUMMULUS yang di-PARODI-in

Posted: 30 Juli 2010 in PARODI
Tag:, , , , , ,

AWAN CUMMULUS yang di-PARODI-in

Awan Hitam Comulus Nimbus

Awan Hitam Comulus Nimbus

Kulihat mendung sore ini 29 Juli 2010 di langit jogja indah betul awan mendung yang biasa di sebut awan Commulus (ini kalau lidah urakan bisa di pelintir jadi “Awan kau Mulus” deh.. hehe) menggumpal di sisi barat yang menutupi matahari yang hendak terbanam hingga menimbulkan efek sinar matahari yang keluar dari sela2nya sangat indah, meski nggak sempat hujan hixs-hixs

Tapi itu aja nggak apa-apa toh sudah mewakili harapan akan turunnya hujan entah itu esok hari atau lusa, dari pada nggak ada tanda sama-sekali hayo.. kalau ada tanda kan kita bisa segera atur strategi untuk besok atau lusanya, mau menyongsong datangnya hujan dengan cara apa..

Bagi saya yang hanya bisa berharap dan berharap turunnya hujan, kan nggak bisa apa2 ibarat Pepatah jawa yang terkenal bagi muda mudi jaman saya (sekarang dah beda kayaknya, hehe…) yaitu “Lanang Wenang Milih, Wedok Wenang Nolak” yang bahasa indonesiannya “laki-laki berhak memilih (atau sekedar berharap), perempuan berwenang menolak” tanda-tanda apakah dia bersedia di pilih atau tidak kan penting, jadi bisa langsung tancap gas, atau mundur teratur.. hehe..

Kembali ke Awan tadi ya, mungkin orang tidak merasa istimewa melihat awan yang seperti itu, karena memang tidak jarang Awan seperti itu muncul di langit apalagi saat musim hujan, tapi bisa jadi ada orang yang melihat keindahan tetep sebagai keindahan meskipun di ulang-ulang seribu kali dan lalu tak henti2 bergumam oh Indahnya, seperti orang yang nggak bosan2 lihat sinetron (soal sinetron bukan saya ya!) sampai-sampai berganti generasi tetep hayok aja, bahkan dulu saya sempat menyindir teman saya yang ketagihan sinetron “Misteri Gunung Merapi” begini “tahu nggak? bisa jadi duluan kamu yang mati daripada matinya mak lampir” tapi benerkan sampai sekarang mak lampir nggak mati2 cuman senetronnya yang mati suri , bisa jadi besok muncul lagi, temen saya nyaut “ Terang saja mak lampir nggak mati-mati, dia kan punya ajian rawa Rontek, kalau mati bisa hidup lagi” buset dah, nggak sadar juga dia ku sindir, ya udah ku diemin aja. bahkan ada lagi status seorang teman di Facebook bilang begini “Ada tiga Cinta yang tidak pernah ada habisnya yaitu 1. Cinta Tuhan kepada makluknya 2. Cinta kedua orang tua kepada anaknya 3. Cinta Fitri.” Wakakakak… saya terpingkal-pingkal membaca status ini. Buset dah!!

Awan Commulus oh Awan Commulus… menjadi awan seperti dirimu memang serba salah, dia yang terbentuk untuk menjadi awal dari Anugrah Allah SWT, berupa hujan yang di rindui setiap mahluk yang ada di bumi, kecuali manusia-manusia kurang ajar yang tidak sadar arti penting hujan, dan malah sering pula dia di caci, loh kok mendung seh, jemuran uangku di atas genteng gimana coba? (padahal cuman serebu perak, yang ikut kecuci paginya) ya begitulah manusia, yang sukanya cuman mementingkan ego-nya sendiri, maunya orang sedunia menuruti kehendak dia, jangan kata manusia, kalau bisa Tuhan pun manut ama dia, Ampyun deh.. mbok ya manut dengan kehendak tuhan kan enak toh ya? Wong jelas-jelas tuhan nggak bakal menghinakan makluknya, yang bisa menghinakan itu cuman dirinya sendiri. dan orang yang bisa merasa terhina itu adalah orang yang terlalu tinggi menaruh espektasi atas dirinya, yang nggak sadar dia itu siapa dan bagaimana. Hufff… mending kan kita menjadi pribadi yang rendah diri aja, kalau kita sudah memposisikan diri rendah, mau di rendahin kemana lagi coba? tapi kalau mereka tahu kwaitas sebenarnya kita ternyata tidak serendah yang kita perlihatkan, mereka yang akan mengangkat kita setinggi tinginya..

Awan Commulus yang hitam tapi nggak tahu manis atau tidak, “toh kalau pun nggak manis mau ngapain, cuek aja kaleee..” begitu mungkin kalau dia bisa bereaksi tentang komentar yang mengatakan hitamnya awan commulus, bener juga seh, lha wong jelek or cakepnya orang itu relatif, kalau marketer yang bilang “semua ada sekmentasinya” kereta api biar hitam banyak yang naikin hayo… apa lagi kriteria orang menilai orang lain kan tidak cuman dari wajah atau penampilan tapi dari hati yang tercermin dari kelakuan sehari-hari, cintapun akan awet kalau perasaan cinta itu tolok ukurnya hati, bukan hidung mancung, kulit putih, tinggi semampai dan lain-lain. Kalau mau diambil contoh cinta dari hati itu mungkin ya seperti cintanya Riantiarno (pimpinan teater koma) atau BJ Habibie ama istri mereka, rukun mesra sampai hari tua, *duh ngiler deh* hehe

Kembali lagi ke pada awan kau mulus –halah- Awan Commulus kalee…. kalau aku baca beberapa referensi, di dalam awan commulus itu mengandung berjuta-juta galon Air dan bahkan Es yang harus di bawa dari satu titik (biasanya lautan) menuju titik yang di pastikan Tuhan untuk di turunkan hujan itu, bermil-mil jauhnya, tetep ringan melayang-layang seperti tanpa beban, ikhlas Lillahita’ala deh pokoknya, nah dengan gambaran seperti itu harusnya kan kita malu, lha kita di suruh ngangkat se ember air dari sumur ke halaman untuk nyiramin tanaman oleh ibu atau bapak kita aja “Mbesengut” 2 hari 3 malam, sambil ngomel-ngomel nggak jelas, kadang menolak dengan segala macam alasan, apalagi beban dari tuhan, mbok sadar bahwa kita itu hanya titah, toh coba’an itu hasilnya kembali kekita “dengan catatan kita ikhlas dan sabar” hingga kita bisa menjadikannya pelajaran untuk melangkah dalam kehidupan mendatang menuju yang lebih baik. Bukannya ngomel-ngomel tuhan kenapa saya seperti ini, apa salah dan dosaku.. Ngaca bok! Kalau kagak punya kaca, coba deh jalan-jalan, kan sekarang dah banyak etalase yang ada kacanya, sekalian ngingat-ingat lebih sering ingat ke baju yang disandang manukin-manukin di etalase itu, atau ingat sama tuhan, yang sudah memberikan berjuta kenikmatan termasuk uang untuk belanja-belanji itu..

Udah ah.. kok malah aku yang ngomel-ngomel ya? hehe

Mau baca parodi yang lainya silahkan klik DISINI

Komentar
  1. hendra mengatakan:

    tiap orang punya pilihan…. kalo sudah punya pilihan, tinggal pastikan mana yang jadi prioritas… * segmentasi kuwi ukurane manungso liyane, tp yang penting “mesti” ukurane awake dewe🙂

  2. suklowor mengatakan:

    Njih pak guru… hehe

  3. cantigi mengatakan:

    mudah2an tetep sehat ya mas eko..

  4. kanvasmaya mengatakan:

    berkunjung berkunjung..

    libur komen dlu ya..

    mo ngucapin met menunaikan ibadah puasa semoga menjadikan berkah buat semua.. mengucap maaf juga dari KaMay & Keluarga jika ada salah baik kata ato lainnya..

    terima kasih
    KaMay..
    http://kanvasmaya.wordpress.com/

  5. cantigi mengatakan:

    numpang lewat ah..

  6. bluethunderheart mengatakan:

    aku senang mas mau kembali ngeblog
    maafkan jika blue salah y
    met berpauasa
    salam hangat dari bl;ue

  7. ngatirin mengatakan:

    selamat pagi mas,

  8. peningwidya mengatakan:

    wah…baru tau kl mas eko punya blog
    dan gara2 mbuka blog ini aq jd inget kl aq juga punya blog 1th lebih ga kutengokin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s