DI BANGKU INI, DI TAMAN KOTA, AKU DAN PAK JAMAL

Posted: 15 Agustus 2010 in CERPEN
Tag:, , , , , , , , ,

DI BANGKU INI, DI TAMAN KOTA, AKU DAN PAK JAMAL

Bangku taman kota

Aku berjingkat diantara reruntuhan rindu, yang tetap hangat seperti pelukan seorang ibu, ditengah malam di taman kota yang sudah lengang, tetapi tetap menyisakan serakan sisa keramaian orang-orang yang merasa pikirannya sedang dahaga, dan ingin meminum sebanyak banyaknya obat kuat bermerk gembira itu. Genangan tawa dan canda dari mereka masih tersisa, baik di jalanan maupun ditrotoar, meski sedikit demi sedikit mulai menguap dan mengapung, menimbulkan aroma yang kadang menyesakkan dada, namun kadang menggelitik nalarku, hingga senyum sulit ku sembunyikan dari sudut bibirku.

Ah sudahlah itu punya meraka, dan aku sedang mencari yang bukan mereka cari, seketika gambaran itu muncul dalam benakku dan menyadarkanku atas parodi-parodi kehidupan yang tadi sempat menggelitik lamunanku. Bayangan seorang perempuan yang sampai sekarang belum kuketahui pasti seperti apa wajahnya dan siapa namanya. Meski kadang aku berusaha menerka-nerka, oh mungkin si-A, oh mungkin si-B. Meski belum pernah ketahuan pas-nya.

Tapi tak apalah sebuah hayalan sering jauh lebih menyenangkan daripada kenyataan bukan? Dan karena inilah aku sering datang ke tempat ini untuk sekedar berhayal, siapa tahu dari gumpalan sisa-sisa tawa orang-orang dahaga tadi, muncul dirimu dengan senyum manis, dan mengulurkan tangan padaku, ah ini pasti hayalan lagi… sekali lagi tak apa-lah.

Seekor kelelawar tanpa permisi menggangu lamunanku ketika dia tiba-tiba terbang hampir saja menabrak wajahku. Aku terhenyak dan mengumpat, ah untung kau punya sensor ultrasonik yang bisa mendeteksi benda yang menghalangi arah terbangmu dan dengan seketika membelok, kalau tidak, mungkin sudah ada bekas luka yang kau sematkan di wajahku. Aku tidak tahu apakah dia mengumpat kepadaku atau tidak, tapi kalau sewajarnya manusia pasti dia juga mengumpat, Oi kau yang duduk-duduk disitu, bukannya ini sudah waktunya untuk istirahat kenapa kau selalu saja datang, disaat kami ini para kelelawar, sedang mencari makanan, apa yang kau cari, lihatlah buruanku lepas gara-gara ada dirimu. Begitu mungkin kata kelelawar.

Tapi aku tidak akan mempedulikan itu, kita punya urusan masing-masing, dirimu mencari makan, aku menunggu seseorang, seseorang yang dalam gambaran imajinerku kupastikan akan mampu untuk membuat seumur hidupku bahagia.

“Selamat malam mas”, sapa seorang bapak tua yang sudah sering menemaniku duduk-duduk di bangku taman kota ini, “selamat malam pak Jamal, sudah selesaikah tugasnya”, jawabku sambil kuselipkan tanya. “Halah mas, tidak ada tugas bagi manusia yang bisa selesai,” jawabnya tungkas.. kok bisa begitu pak..? tanyaku penasaran dengan ungkapan pak jamal yang menurut orang-orang berpendidikan mungkin sangat filosofis itu, dan mungkin kalau keberuntungan memihak padanya ungkapan seperti tadi bisa menghantarkan dia setenar plato atau socratess batinku. “Mas Eko, Waman Qolaktul Jinna Wal Insa Illa Liyakbudun1 Tidak ku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk menyembah pada-Ku (Allah). nah di dalam kewajiban menyembah itu kan ada kewajiban beribadah, nah tugas saya menyapu jalan itu kan juga ibadah, jadi ya saya menganggap selesai jika saya dah di ambil oleh yang punya mas”, saya cuman mengangguk pelan, sambil berfikir agak nyinyir, oh ya pantes pak Jamal ini nggak seterkenal plato atau socrates atau filsof yunani yang lain, filosofinya bidang agama sih, mana ada orang tertarik, coba kalau filosofinya masalah duniawi, wah pasti kalau di bukukan cepet ludes, jadi best seller dan kemudian di puja-puja melebihi Nabi, jangankan saat masih hidup, sudah matipun pasti banyak yang mengujunginya meskipun berbeda ideologi agama. Ah benar kiranya sekarang keduniawian telah menjadi agama baru…

“Loh kok malah ngalamun to mas, apa omongan saya tadi salah!”. Tegur pak Jamal mengobrak-abrik lamunanku, “oh tidak pak Jamal,” secepatnya saya menimpali,“saya justru tertegun dengan apa yang pak jamal tadi katakan, sering orang seperti saya ini justru lupa dengan hakekat tujuan hidup manusia sebenarnya seperti yang pak jamal bicarakan barusan, dan karena lupa itulah sering kali kita melupakan aturan-aturan yang wajib kita pegang, yang sebenarnya perbuatan melanggar aturan tadi hanya memberikan nikmat sesaat, dan justru membuat kita sendiri yang susah, tidur nggak nyenyak.”

“Nah itu dia mas eko, saya tu juga heran kenapa orang-orang mau korupsi, mau menipu, mau hal-hal yang menyalahi aturan semacam itu, nggak takut “Ngunduh woh-ing pakarti”2 misalnya di penjara, kalau sudah di penjara siapa yang malu, dia mungkin sudah nggak punya malu, iya to mas eko, tapi mbok mikir anaknya, mikir istrinya, mikir ibu dan bapaknya, betapa malunya mereka.. kalau saya mending jadi tukang sapu, ayem mangan sak onone3 nggak apa tapi hati tentram,” sambil menarik nafas panjang lelaki tua ini beringsut menggeser posisi duduknya agar lebih nyaman,.

Satu hal yang saya suka diantara sekian banyak keistimewaan Pak Jamal ini, yaitu suaranya yang berat runtut enak didengarkan dan tidak dibuat-buat, tidak seperti yang sering muncul di TV itu, sehingga kewibawaan murni memang muncul dari dalam, bukan cuma sekedar diciptakan, semacam bedak pelacur tua berusia 32 tahun yang ingin kelihatan muda supaya menarik simpati banyak orang.

“Mohon maaf mas eko, saya sebenarnya sudah lama pingin menanyakan ini tapi takutnya mas eko tersinggung, tapi rasa penasaran saya sudah nggak bisa terbendung”. Saya menoleh ke arahnya, kulihat mimik muka serius terlihat jelas dibawah guyuran sinar lampu kota yang sangat benderang, sangat ironis kalau mendengar kabar masyarakat didekat PLTU yang justru tidak kebagian listrik. Atau pabrik-pabrik dengan ratusan bahkan ribuan karyawan yang terpaksa libur gara-gara pemadanam bergilir. “Begini loh mas eko, apa alasan mas eko sering duduk di taman ini sendirian justru setelah orang-orang yang berekreasi pada pulang? apa sedang menunggu seseorang?”

Saya tersenyum mendengar pertanyaan ini. Saya juga sudah menduga pertanyaan ini akan terlontar oleh pak Jamal, “Saya suka suasana disini pak, tenang, enak untuk merenung, dan kalau bapak tanya tentang yang saya tunggu, ya sebenarnya memang ada, cuman…” Pak Jamal terlihat kidmat mendengarkan lanjutan ceritaku. “Cuma saya sendiri belum tahu siapa yang saya tunggu pak.” Saya menunduk. “We… kok aneh mas eko ini, kata nya menunggu, tapi kok belum tahu siapa yang di tunggu. Jangan jangan mas eko ini sedang menunggu jodoh ya?”. Sambil mengeluarkan bungkusan tembakau dan kemudian melintingnya. “Iya pak saya sedang menunggu seseorang yang selalu muncul dalam mimpi saya. Yang begitu jelas meskipun sampai sekarang saya belum bisa melihat wajahnya karena dia dalam mimpi saya selalu membelakangi atau berdiri menyamping.”

“Wekekekeke…” Pak Jamal terkekeh. “Kenapa bapak tertawa”, tanyaku, Mas eko,sesuatu yang indah itu akan datang kalau Allah menilai kita telah siap menerimanyaMas eko,sesuatu yang indah itu akan datang kalau Allah menilai kita telah siap menerimanya, maka dari itu saran saya mas Eko menyiapkan diri dulu untuk keinginan mas eko itu, semakin cepat kita siap maka semakin cepat keinginan itu tercapai “Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”4 kalau nanti memang sudah saatnya datang maka mas eko nggak perlu bersusah payah meraihnya, karena kalau Allah sudah memberi ketetapan maka semua seperti semudah membalik telapak tangan, bukankah Rasullullah pernah bersabda “Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi.”5, “iya pak, cuman kadang saya sendiri yang suka nggak sabar pak,”

Sambil menarik nafas panjang Pak Jamal melanjutkan ceritanya, “wajar mas eko, semua orang pasti merasa seperti itu, nggak sabar menunggu terwujudnya keinginan dan kadang tidak terima bila dikasih cobaan, padahal kita kan wajib selalu berprasangka baik pada Allah, karena dengan berprasangka baik itu, nanti apa yang kita prasangkakan akan terwujud apakah itu baik atau buruk Rasulullah juga bersabda Di dalam shahih Muslim disebutkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam bersabda : “Allah azza wa jalla berfirman,’Aku berada pada persangkaan hamba-KU kepada-KU. Maka hendaklah dia membuat persangkaan kepadak-KU menurut kehendaknya.” Maka selalu berprasangka baiklah pada Allah mas termasuk didalamnya bersyukur bahkan bersyukur saat menerima cobaan dari Allah, sehingga kita masuk golongan Al fa’izun yang menurut Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang saya baca di buku Lautan Hikmah Kekasih Allah6 orang dikatakan Fa’izun adalah mereka yang yakin, hanya meng-esakan Allah dan ikhlas demi dia semata serta sabar dalam menghadapi bala cobaan dari Allah dan petaka-petaka, kemudian bersyukur atas segala kenikmatan dan kemurahan-Nya. Mereka menyebutnya dengan lisan, kemudian dengan hati, lalu dengan nurani (sirr) mereka, sehingga jika mereka di sakiti oleh orang mereka justru akan tersenyum dihadapan mereka.kalau sudah begitu hidup akan tenteram mas eko”

Saya berkaca-kaca mendapat petuah dari Pak Jamal ini, sungguh luar biasa pemahaman hidup seperti beliau, kadang kita menyepelekan orang-orang yang dalam kadar keduniawian tertinggal, tapi belum tentu mereka itu kadar keilmuannya di bawah kita, bahkan bisa jadi justru jauh di atas kita.

“Mas Eko, itu kebetulan suara adzan subuh sudah di kumandangkan, tandanya kewajiban sholat wajib dilaksanakan”, mari ikut saya ke masjid. sambil menepuk2 pundak saya Pak Jamal berdiri, sayapun segera berdiri dan mengikuti langkah2 beliau.

Sambil berjalan beliau sempat menyitir Ayat Alqur’an “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberikan rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka.7” jadi tidak usah khawatir lagi mas eko.

Saya tidak henti-hentinya bersyukur bertemu orang semacam pak Jamal yang mampu memberikan tambahan kekuatan dalam diri saya, sekarang dunia saya menjadi terasa sangat luas, Alhamdulillah ya Allah.

Keterangan :
1. (QS. Adz-Zarriyat : 56)
2. Memetik Buah dari perbuatannya
3. Tenteram makan se-adanya
4. (QS Al-Thalaq : 3)
5. (Muttafaqun ‘alaih dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu)
6. Lautan Hikmah Kekasih Allah (Kumpulan Terjemahan Kutbah Syekh Abdul Qodir al-Jaelani) : Diva Press Edisi ke VI : Agustus 2008
7.(QS Al-Thalaq : 2-3)

Mau Baca Cerpen yang lain silahkan KLIK DISINI
Pic diambil dari witjatmoko.wordpress.com

Komentar
  1. Alfian Fakeeh mengatakan:

    semua orang pasti merasa seperti itu, nggak sabar menunggu terwujudnya keinginan dan kadang tidak terima bila dikasih cobaan, padahal kita kan wajib selalu berprasangka baik pada Allah, karena dengan berprasangka baik itu, nanti apa yang kita prasangkakan akan terwujud apakah itu baik atau buruk Rasulullah juga bersabda Di dalam shahih Muslim disebutkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa Sallam bersabda : “Allah azza wa jalla berfirman,’Aku berada pada persangkaan hamba-KU kepada-KU. Maka hendaklah dia membuat persangkaan kepadak-KU menurut kehendaknya.” Maka selalu berprasangka baiklah pada Allah mas termasuk didalamnya bersyukur bahkan bersyukur saat menerima cobaan dari Allah, sehingga kita masuk golongan Al fa’izun yang menurut Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang saya baca di buku Lautan Hikmah Kekasih Allah6 orang dikatakan Fa’izun adalah mereka yang yakin, hanya meng-esakan Allah dan ikhlas demi dia semata serta sabar dalam menghadapi bala cobaan dari Allah dan petaka-petaka, kemudian bersyukur atas segala kenikmatan dan kemurahan-Nya. Mereka menyebutnya dengan lisan, kemudian dengan hati, lalu dengan nurani (sirr) mereka, sehingga jika mereka di sakiti oleh orang mereka justru akan tersenyum dihadapan mereka.kalau sudah begitu hidup akan tenteram mas eko”

    Kutipan diatas membuat Batinku menangis.

    • suklowor mengatakan:

      Semoga tidak bertentangan dengan batin mas Alfian..🙂

      • widyarty hartanto mengatakan:

        wah semakin sip aja nih tulisan mas eko,,,sangat menarik,,,memang masalah jodoh gampang gampang susah kayak rejeki aja,,,tapi saya selalu ingat akan kata ortu,,,bahwa klo kamu menikah nanti jangan hanya menikah dengan pasanganmu saja tapi nikahi juga keluarganya,,semakin bingung aku dibuatnya ,,,selidik punya selidik,,,artinya penyatuan dua keluarga,,,keluargamu ya keluargaku,,,arang tuamu ya orang tuaku juga,,,jadi akan tercipta kekuatan baru,,,bukan malah perpecahan,,,tapi ironinya yang terjadi sekarang banyak pasangan yang sebelum menikah rukun sama sodara malah setelah menikah dengan datangnya pihak ketiga,,,malah g akur ma sodara,,,ma ortu lagi,,,malah ada yang menganggap mertua sebagai musuh,,,Naudzubillah,,,tapi percaya mas eko mudah2 penantian mas eko berujung dengan kebahagian!!yakinlah lelaki baik untuk Wanita yang baik pula!!ditunggu tulisan berikutnya lagi sukses!!

        • suklowor mengatakan:

          Terimakasih pujiannya jadi makin semangat aja, isya’Allah tulisan lain akan segera upload meski nggak melulu cerpen🙂

          Soal yang kekacauan dalam pernikahan yang widya bahas ntu, masalahnya keluarga di indonesia makainnya referensi Sinetron sih.. jadi ya gitu deh hehe

  2. ngatirin mengatakan:

    salam kenal dari dalang kalteng mas,
    maaf belum bisa komentar hanya saja aku suka membacanya,
    (bahasa jawa) 1.pesthi 2.jodho, 3.wahyu, 4.pangkat
    itu hanya tuhan yang tahu

  3. bluethunderheart mengatakan:

    malam
    p cabar mass
    salam hangatd ari blue

  4. Yohan Wibisono mengatakan:

    Artikelmu bagus, Inspiring, aku suka. Aku juga suka nulis artikel bisnis, Traveling dan pengalaman pribadi. Silahkan berkunjung ke blogku http://www.yohanwibisono.com, Kita bisa sharing🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s