NYANYIAN ANGKLUNG
by Eko’Suklowor’ Wibowo

Angklung

Angklung

—-
Denting atau mungkin bukan denting
Lara hati kini makin nyaring
Malam tinggal sisa
Jika ku tulis sajak-sajak lama
Maka jejak melayang
Akan kembali tergenang

Mengenang susah hati patah
Ingat jaman berpisah…

Lirih suara angklung mengingatkanku padamu, kala itu bulan larut, selarut obrolan kita tentang apa saja, tentang orang-orang yang berjalan ditrotoar, tentang pengasong, pedagang kaki lima atau muda-mudi yang sedang duduk berdua. “Aku ingin seperti mereka,” katamu. “Lho, bukankah kita juga duduk berdua?” tanyaku yang hanya kau jawab dengan tawa. “Ah, tawa itu lagi, sungguh aku tak suka.”

Halo-halo bandung, ibukota pariangan
Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau.

Mungkin menurutmu tawa itu sebuah jawaban, tapi menurutku bukan! Dalam hal ini kita tak sejalan. Entah kenapa, Aku selalu bingung dengan isyaratmu. Sama seperti tahun lalu ketika ku tanya padamu “Apa kau suka padaku?” kau hanya tertawa, lalu mengambil dua lembar kertas yang kau lipat-lipat jadi dua buah origami, satu besar-satu kecil, kau letakkan diatas meja dan pergi entah kemana?.

Lir-ilir-Lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar…

Kini musim telah berganti, padi yang ditanam telah dituai, diganti dengan tanaman baru yang lebih menjanjikan. Sedang ladang dihatiku tetap saja beku, tanamanpun mungkin layu, angan tentangmu yang ku siramkan, tak lagi manjur membuatnya kembali segar, sungguh mungkin hanya tawamu yang akan menjadikannya bermekar.

Putraku si ande-ande lumut
Tumuruno ono putri kang ngunggah-unggahi…

Mungkin orang menganggapku gila. “Bukankah banyak wanita cantik yang bisa mengobati luka hatimu?” tanya mereka. Ya mungkin mereka benar, tapi aku tak menganggapnya benar, hatiku seperti terkunci oleh bayangganmu, bayangan kleting kuning yang kembali pulang, mengakhiri kisah seperti Kesumayudha dan Candrakirana.

Hampir malam di Jogja.
ketika keretaku tiba..

Dan pada malam di pelataran malioboro ini
Lewat nyanyian angklung.
Kutitip salam rindu untukmu.
Bersama seribu harap
Semoga kelak kita berjumpa pula..
—–

Remark :
* Terimakasih untuk bapak pengamen yang melantunkan nyanyian angklung di depan Hotel Mutiara Malioboro yang telah memberikan inspirasi sekedar untuk membuat oret-oretan ala kadarnya, ini adalah upayaku menggabungkan tembang-tembang yang dimainkannya menjadi sebuah cerita, semoga teman-teman bisa menikmati🙂
* Mau Baca PUISI yang lain silahkan KLIK DISINI
* Picture sumber : http://kasmiaji81.wordpress.com

Komentar
  1. widia mengatakan:

    Sebuah penantian,,,menanti memang pekerjaan yang sangat membosankan,,,yang tak pasti,,,apa benar lelaki juga menanti,,bukan menyambut atau malah memilih,,,???,,,tapi yang pasti aku yakini,,,ra ono gesek wong????ya toh??? yang penting berusaha sambil berdoa,,,nikmati prosesnya,,,semoga mendapat yang terbaik nantinya,,,semoga AMIEN,,,,buat mas eko,,,semangat2,,,,semoga selalu bahagia didalam penantiannya….

    • suklowor mengatakan:

      makasih dah comment ya :

      Lelaki yang punya sifat tanggung jawab pasti punya saat saat untuk menanti, minimal menanti orang yang tepat untuk di ajak kepelaminan, bukan yang asal ada trus di pilh untuk pacaran, padahal bukan tipe idamannya (hanya bersifat pengisi kekosongan) kalau ketemu yang lebih menarik di tinggal begitu saja,… saya nggak mau menjadi yang seperti mereka, aku lebih memiilih menanti bertemu cewek yang benar2 aku siap untuk menikahinya baru kemudian aku pilih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s