FARIDA SANG PENARI “LEDEK” CILIK

Posted: 6 Juni 2011 in CERPEN
Tag:, , , , , , , , , , , ,

FARIDA SANG PENARI “LEDEK” CILIK

tarian ledek

Ledek

Saat itu hujan rintik-rintik, dengan bermodal payung, aku nekat pergi ke rumah nek Parmi di ujung Kampung, disana nenek Parmi sedang duduk-duduk teras rumahnya, sambil mendengarkan tembang-tembang jawa, ah sepertinya tenteram sekali.

Oh iya namaku Farida, aku kelas 5 SD Gentong, di kaki Gunung lawu, di Kabupaten Ngawi, meskipun aku menyebut daerahku di kaki Gunung Lawu tapi daerahku masih datar, mungkin baru 2 km lagi jalanan baru mulai menanjak.

“Selamat sore nek”, sapaku sambil meletakkan payung dan kemudian mencium tangan nek Parmi.

“Selamat sore cu, wah nenek kira nak Ida tidak datang karena hujan,” jawab nek Parmi sambil mengelus rambutku dengan lembut, menunjukan kasih sayangnya padaku.

“Ida kan pingin cepat pintar menarinya nek”, jawabku,

“Ayo nek segera dimulai” ajakku nggak sabar.

Lalu kamipun memulai latihannya dengan di iringi musik gambyong yang di putar dari tape rekorder, dan selembar selendang yang di ku kalungkan di leher, Farida memperagakan tarian yang sudah aku pelajari sebelumnya, kemudian disambung dengan gerakan-gerakan baru yang diajarkan nek Parmi. Sedangkan nek Parmi sesekali memperbaiki gerak tangan, kaki dan Kepalaku.

Begitulah suasana latihan yang ku lakukan setiap hari Rabu dan Sabtu. Aku sudah hampir tiga bulan latihan di rumah nek Parmi, Aku sangat bahagia dan bangga bisa mempelajari tarian tradisional di daerahku yang mulai di tinggalkan itu.

“Ledek” adalah kesenian tradisional Kabupaten Ngawi yang dulu sangat digemari, tapi seiring dengan kemajuan jaman, kesenian itu mulai di tinggalkan. Dulu nek Parmi adalah penari “Ledek” terkenal dijamannya, bahkan sempat mendirikan semacam padepokan untuk remaja di kampungku, cuman lama-lama karena banyak muridnya yang menikah atau kerja ke kota. Sekarang aku-lah satu-satunya murid nek Parmi.

Di Sekolah, setiap Aku berhasil menguasai gerakan tarian baru dengan benar, Aku selalu memperagakannya di depan teman-temanku, berharap ada temanku yang mau ikut berlatih bersama, ikut melestarikan kesenian tradisional dari tanah kelahiranku yang mulai langka, tapi meskipun teman-temanku menyambut dengan senang, bahkan memberikan pujian tarian pada tarianku, tetap saja tidak ada satupun dari mereka yang mau ikut berlatih.

Bukan cuma teman-temanku yang memberi pujian, banyak diantar guruku yang sangat memuji kemampuan tarianku, seperti bu Siti, guru kesenianku yang selalu menyanjung bakatku, bahkan dia berencana mengundangku untuk tampil di acara hajatan penikahan putrinya jika nanti putri beliau menikah, aduh senengnya hatiku.

Tapi hal ini tidak berlangsung lama, tepatnya setelah sekolahku kedatangan dua murid baru dari Kabupaten lain yang sebenarnya tidak jauh dari Kabupaten Ngawi, mereka adalah si kembar Sinta dan Santi, dua anak ini sombong banget, maklum sih sepertinya mereka anaknya orang kaya yang kebetulan baru dipindah tugaskan ke daerahnya ku.

Mereka sepertinya pingin menjadi yang paling terkenal di kelas, mereka sering mentraktir teman-teman, membagikan jajanan, sehingga banyak teman-teman ku yang terpengaruh dan mengikuti mereka, dengan begitu mereka bisa berbuat seperti ratu, kalau ada tugas mereka tidak mau mengerjakan dan menyuruh temanku yang lebih pintar untuk mengerjakannya, dengan imbalan ditraktir atau diberikan mainan, tapi kalau ada teman yang tidak mereka sukai, misalkan yang tidak mau memberi contekan saat ujian, atau tidak mau mengerjakan PR mereka, langsung mereka musuhi, mereka olok-olok, termasuk juga aku dan tarianku, mereka menyebutku dengan sebutan “Ledek Munyuk” secara bergantian, kalau Sinta bilang “Ledek”, Santi-pun menyambung dengan kata “Munyuk” itu sungguh menyakitkan hati, karena di daerahku “Ledek Munyuk” artinya Topeng Monyet jahat bukan?.

Itulah yang akhirnya meruntuhkan semangatku untuk belajar menari, beberapa kali kesempatan aku tidak datang ke rumah nek Parmi, saat ibundaku bertanya soal itu, aku sering hanya menjawab “lagi malas” atau Aku kadang terpaksa harus berbohong sama bunda, kadang aku tetap pergi saat jadwalnya latihan menari, tapi di tengah jalan aku berbelok ke rumah temanku untuk bermain dengan mereka, begitu seterusnya.

Sampai akhirnya mungkin karena ibuku melihat gelagat yang tidak beres dengan tingkahku ini, yang tadinya sangat semangat untuk belajar menari, tapi sekarang ogah-ogahan, dan saat aku mau beranjak tidur ibu ikut masuk ke kamarku, sambil pelan-pelan bertanya.

“Ida ada masalah?” tanya ibu sambil mengelus kepalaku dengan kasih sayangnya

“Tidak ada kok bu” jawabku

“Lalu kenapa Ida tidak pernah berlatih menari lagi, tadi pagi nek Parmi kesini menemui ibu, menanyakan apakah kamu sakit sehingga beberapa kali tidak bisa hadir latihan.

Akupun termenung sesaat, kemudian sambil menangis menceritakan semua masalahku kepada ibu. Soal ejekan teman-teman terutama Santi dan Sinta yang selalu mengejekku dengan kebiasaanku menari “Ledek” itu. Aku juga menyesal kepada ibu karena beberapa kali telah berbohong, ijinnya aku pergi ke rumah nek Parmi untuk berlatih tapi nyatanya aku main ke rumah teman. Dan aku akan menerima kalau misalkan nanti ibu menghukumku atas perbuatanku itu.

Tapi rupanya ibu tidak marah, beliau justru menasehatiku, untuk tidak menghiraukan apa yang dikatakan teman-temanku, beliau bilang:

“Ida, untuk menjadi orang besar pasti harus melewati cobaan, dan perlu kamu tahu, mereka mengolokmu dengan mengatakan tarianmu jelek, itu sebenarnya justru menunjukkan bahwa mereka itu iri padamu, mereka hanya mencari alasan supaya kamu tidak mau latihan menari lagi, mereka jelas tidak mau kalah denganmu, tapi untuk ikut menari mereka malu.”

“Percayalah sama ibu, buktinya dulu kamu sering cerita sebelum Sinta dan Santi datang, teman-temanmu yang lain sering memujimu saat kamu menunjukkan kemampuan tarimu di depan kelas kan?”

“Tapi sekarang mereka berubah bu!” Bantah ida.

“Betul, tapi ibu yakin itu karena mereka terpengaruh oleh Santi dan Sinta saja, bukan dari hati mereka.”

“Terus aku harus gimana bu?” Tanya ida kemudian

“Ida harus terus latihan menari, kalau misal tidak mau diledekin temanmu di kelas, untuk sementara Ida tidak usah menunjukan tarianmu di depan teman-temanmu, nanti pada saatnya akan ada orang yang dengan senang hati ingin melihat dan mengagumi tarianmu, dan Ida tahu tidak, siang tadi ibu dapat telpon dari bu Siti, kata beliau dalam rangka ulang tahun Kabupaten Ngawi, akan diadakan lomba tari tingkat SD di Kabupaten, nanti pemenangnya selain dapat piala dan hadiah, juga akan diminta tampil dihadapan pak Bupati.”

“Benarkah bu?” tanya Ida semangat

“Benar, kalau Ida tidak percaya, besok pagi Ida bisa menanyakan langsung pada bu Siti di sekolah. Kamu tidak mungkin melewatkan kesempatan ini kan sayang?”

“Tentu saja bu, aku pasti ikut, akan ku tunjukan pada semua orang bahwa Ida adalah penari hebat.” Jawab ida sambil melompat-lompat kegirangan.

“Itu baru anak ibu, maka-nya mulai besok jangan lagi bolos latihan ya, kasihan nek Parmi cemas memikirkanmu.”

“Iya bu!, maafkan Ida ya bu”

“Tentu sayang” jawab ibu sambil tersenyum

Mulai hari itu aku kembali bersemangat untuk latihan, bahkan sekarang latihanku di tambah, bukan cuma hari Rabu dan Sabtu, sekarang hari Minggu-pun Farida latihan.

***
Tibalah waktunya hari perlombaan, dengan diantar Ayah, ibu, bu Siti dan tentu saja nek Parmi, aku berangkat ke Pendopo Kabupaten, dengan pakaian adat yang di sewa ibu dari salonnya bu Ratna, Ayah memujiku katanya aku kelihatan cantik dan berseri, aduh aku jadi malu hehe….

Sesampainya di Pendopo Kabupaten, aku melihat banyak peserta lain yang sudah berkumpul, tidak membuat nyaliku ciut, tapi justru membuatku senang karena ternyata yang menyukai tarian “Ledek” bukan cuma aku seorang, masih banyak teman-teman yang suka belajar menari “Ledek”, maka tanpa di komanndo aku langsung minta ijin pada Bunda untuk berkenalan dengan mereka, siapa tahu nantinya bisa berlatih bersama. ah sungguh bahagiannya hati ku hari ini.

Singkat cerita akhirnya aku menjadi juara pertama di lomba itu, dengan piala yang besar dan hadiah yang lumayan dan tentu yang membuatku sangat bangga dan kenyataan bahwa besok, di hari ulang tahun Kabupaten Ngawi, Aku akan tampil di depan Pak Bupati dan Pejabat Kabupaten, aduh sungguh akan menjadi pengalamanku yang tidak akan bisa terlupakan.

***
Di hari berikutnya setelah ibu Siti mengumumkan keberhasilanku di depan teman-teman sekelas, tanpa ku duga aku di dekati Sinta dan Santi, mereka meminta maaf kepadaku atas perbuatan mereka, dan kagetnya lagi mereka meminta ijin kepadaku untuk ikut latihan menari di rumahnya nek Parmi, dan itu diikuti teman-teman yang lain, dan tentu saja aku menyambut gembira niatan Sinta, Santi dan teman-temanku yang lainnya ini. Berarti benar kata ibu kalau mereka kemaren hanya iri saja padaku.

“Asik berarti mulai besok aku tidak latihan sendiri lagi.” teriak Ida, dan disambut tawa teman-temanya.

SELESAI

* Mau Baca CERPEN yang lain silahkan KLIK DISINI

Komentar
  1. widia widhi mengatakan:

    sipiriliiiiiiii,,,,,,,,,,,,,,,,bagus mas, ceritanya membangun,,,,tapi ada sedikit kekakuan dalam bahasa pada dialog ibu sama farida,,,,,yang ida ada masalah??? klo saya boleh urun saran begini mas,,,,kenapa ida, kok bla,,,,,bla,,,saya tunggu cerita2 selanjutnya,,,,,,semangat mas eko!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s