Archive for the ‘CERPEN’ Category


FARIDA SANG PENARI “LEDEK” CILIK

tarian ledek

Ledek

Saat itu hujan rintik-rintik, dengan bermodal payung, aku nekat pergi ke rumah nek Parmi di ujung Kampung, disana nenek Parmi sedang duduk-duduk teras rumahnya, sambil mendengarkan tembang-tembang jawa, ah sepertinya tenteram sekali.

Oh iya namaku Farida, aku kelas 5 SD Gentong, di kaki Gunung lawu, di Kabupaten Ngawi, meskipun aku menyebut daerahku di kaki Gunung Lawu tapi daerahku masih datar, mungkin baru 2 km lagi jalanan baru mulai menanjak.

“Selamat sore nek”, sapaku sambil meletakkan payung dan kemudian mencium tangan nek Parmi.
(lebih…)

Iklan

DI BANGKU INI, DI TAMAN KOTA, AKU DAN PAK JAMAL

Bangku taman kota

Aku berjingkat diantara reruntuhan rindu, yang tetap hangat seperti pelukan seorang ibu, ditengah malam di taman kota yang sudah lengang, tetapi tetap menyisakan serakan sisa keramaian orang-orang yang merasa pikirannya sedang dahaga, dan ingin meminum sebanyak banyaknya obat kuat bermerk gembira itu. Genangan tawa dan canda dari mereka masih tersisa, baik di jalanan maupun ditrotoar, meski sedikit demi sedikit mulai menguap dan mengapung, menimbulkan aroma yang kadang menyesakkan dada, namun kadang menggelitik nalarku, hingga senyum sulit ku sembunyikan dari sudut bibirku.

Ah sudahlah itu punya meraka, dan aku sedang mencari yang bukan mereka cari, seketika gambaran itu muncul dalam benakku dan menyadarkanku atas parodi-parodi kehidupan yang tadi sempat menggelitik lamunanku. Bayangan seorang perempuan yang sampai sekarang belum kuketahui pasti seperti apa wajahnya dan siapa namanya. Meski kadang aku berusaha menerka-nerka, oh mungkin si-A, oh mungkin si-B. Meski belum pernah ketahuan pas-nya.

(lebih…)


Sambungan dari Bag. 2

GAUN PENGANTIN MERAH bagian 3 Selesai

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di cegah. Saat dalam perjalanan menuju rumah bibi, Mas Ihsan mengalami musibah, motornya tertabrak mobil yang pecah ban yang tak dapat dikendalikan, sampai masuk jalur berlawanan dan menabrak Mas Ihsan, begitulah cerita dari beberapa saksi yang ada di lokasi kejadian.

(lebih…)


Sambungan dari Bag. 1

GAUN PENGANTIN MERAH bagian 2

Kami sebenarnya sudah mencoba berbicara dengan orang tua kami masing-masing namun mereka menginginkan kami lulus kuliah dulu, bahkan orang tuaku menginginkan pernikahan kami dilaksanakan jika sudah mapan minimal mas Ihsan sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan.

Bukannya kami tidak berusaha untuk menjelaskannya termasuk bahwa rejeki ditangan Allah SWT, namun tetap saja mereka bersikukuh, dan kamipun berfikir untuk menurutinya dengan berpegang pada hadist Rasulullah SAW “Ridlollahi Fi Ridlo Walidaini, Wa Suqtullahi fi Suqtul Walidaini” Ridlo Allah tergantung pada Ridlo kedua orangtua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orangtua. Atas dasar itulah kami kemudian berpacaran sekedar menjaga komitmen sampai nanti saatnya orangtua kami merestui.

Meski status kami pacaran, kami tahu batasan yang tidak boleh kami langgar, jangankan berpegangtangan ngobrolpun harus bareng dengan teman-teman, mungkin kalau ingin sekedar berdiskusi masalah pribadi, kami melakukannya melalui SMS atau Telpon, tidak lebih dari itu.

(lebih…)


GAUN PENGANTIN MERAH bagian 1

Dia pandangi lagi gaun pengantin warna merah yeng sejak tiga tahun lalu mengiasi lemari baju di pojok kamar tidurnya, ada berjuta rasa menyelinap susul menyusul diantara reruang kalbu yang serasa telah membeku atau mungkin telah membatu, ada ribuan cerita terselip saling selinap diantara benak saat memandang baju itu.

(lebih…)

TASLAN (Cerpen 2)

Posted: 14 Juli 2009 in CERPEN
Tag:, ,

TASLAN

Aku hanya terpana diantara ratusan warga kampung yang entah iba atau bahagia memandangi tubuh membujur kaku bersimbah darah, kepalanya pecah, tulang tangannya patah dan paha kirinya robek hingga tak henti mengucurkan darah.

(lebih…)


Sambungan dari Bag. 1

PISCES (Bagian 2.. selesai)

Dia ambil lagi gelas dan meminum teh yang tadi, meski tinggal seteguk saja, lumayan lah untuk sekedar membasahi kerongkongannya. Kemudian dia lirik istrinya yang duduk dengan kipas bambu yang digoyang-goyangkan kekiri dan kekanan mencoba membujuk angin bersatu dengan api supaya lekas kering sepatu sang suami.

(lebih…)


ini adalah bagian 1 cerpen pertama buatan saya, seperti sudah pernah saya bilang di PARODI HARTA VS KECANTIKAN sebenarnya aku bingung apakah ini cerpen atau monolog… kasi pendapat ya

PISCES (Bagian 1)

Dia tengadah lagi malam ini, memandangi bintang gemintang yang bertaburan di angkasa maha luas. Entah apa yang dia fikirkan, sejenak kemudian tangannya di acung-acungkan ke atas, di gerakkan kekanan dan kekiri, kedepan lalu kebelakang, kesegala arah hingga penjuru mata angin tak mampu mewakili gerak gemulai telunjuknya “Aku sudah bosan dengan rasi bintang Pisces” katanya bergumam. Ehm.. rupanya dia ingin merajut bintang untuk menemukan rangkaian rasi bintang baru yang akan dia beri nama sendiri, mungkin sesuai dengan namanya, mungkin sesuai dengan nama istrinya atau mungkin salah seorang dari ketiga anaknya.

(lebih…)