Archive for the ‘PUISI’ Category


NYANYIAN ANGKLUNG
by Eko’Suklowor’ Wibowo

Angklung

Angklung

—-
Denting atau mungkin bukan denting
Lara hati kini makin nyaring
Malam tinggal sisa
Jika ku tulis sajak-sajak lama
Maka jejak melayang
Akan kembali tergenang

Mengenang susah hati patah
Ingat jaman berpisah…

Lirih suara angklung mengingatkanku padamu, kala itu bulan larut, selarut obrolan kita tentang apa saja, tentang orang-orang yang berjalan ditrotoar, tentang pengasong, pedagang kaki lima atau muda-mudi yang sedang duduk berdua. “Aku ingin seperti mereka,” katamu. “Lho, bukankah kita juga duduk berdua?” tanyaku yang hanya kau jawab dengan tawa. “Ah, tawa itu lagi, sungguh aku tak suka.”
(lebih…)

Iklan

PENANTIAN

Posted: 17 Mei 2011 in PUISI
Tag:, , , , , , ,

PENANTIAN

http://kweklina.wordpress.com

PENANTIAN

Disini adalah sebuah penantian,
ketika rumput berinai hujan,
dan senja lebih lamat dari biasanya,
pernahkah kau berfikir bahwa aku tak lagi yakin
akan ada rindu berdesir dalam bisikan bebayu

Lingsir oh, lingsirlah matahari!
Beristirahatlah diharibaan cakrawala

Terbit oh, terbitlah rembulan
Ingin kuceritakan ini seperti malam-malam sebelumnya
melalui kidung yang ku pantulkan
pada cadas dan karang terjal pantai selatan
(lebih…)


MERAPI, ISYARATMU KINI

=====================

MERAPI, ISYARATMU KINI

Kutanya pada gemuruh
Gejolak yang kau rasa,
Adakah ingin kau sampaikan sesuatu?
Pada hati-hati lalai
Atau pada jiwa-jiwa abai

Tak puaskah engkau, hingga..
Getir kami luluh lantak
Gentar kamipun berserak, sampai..
Jiwa-jiwa tak mungkin lagi berontak
(lebih…)


KATA TERGANTIKAN


****
Adakah hujan tersenyum
Siap diantarkan mendung pada kata tergantikan…

Menyembul dari selasar Rindu pada sebuah nama
Nama yang menyeruak dalam Ringkih Ingatan
Ringkihnya harapan.

(lebih…)

GALAU

Posted: 16 April 2010 in PUISI
Tag:

GALAU

***

GALAU

GALAU

Aku terbentuk dari patahan embun, galau
Kemarau hanya meninggalkan aura senja
Bermata belok, beralis tebal
Yang terkadang mempesonaku
Namun tak jarang menyiksa batinku
(lebih…)

ARCA BATU (Puisi 44)

Posted: 18 Februari 2010 in PUISI
Tag:, , ,

ARCA BATU

***

Arca batu

Patung dewi

Disana….
Dikeheningan malam
Kudapati Batu Besar tepekur
Mendengar sajak-sajak sunyi
Dari penyair sepi

Dihayatinya larik demi larik
Bait demi bait hingga
Ingatannya jatuh lalu terpelanting ke masa lalu

Dulu….
Engkau selalu menemaniku disini
Sekedar bercerita tentang
Burung hantu yang bangun kesiangan
Atau Kawista tua ingin memejamkan mata
(lebih…)

MAKA AKU TAK JADI BERTANYA (Puisi 43)

Posted: 4 Februari 2010 in PUISI
Tag:, ,

MAKA AKU TAK JADI BERTANYA

***

Aku tahu kala itu
Detik dan menit menggelontorkan tawa
Disisinya sang waktu yang setia menemaniku
Menunggu Bidadari
Mulai risih dan beringsut pergi
Melesat tanpa mau peduli

(lebih…)


LIBURAN MUSIM SEMI

Aku menyelinap diantara onggokan kerinduan, Batu-batu cadas itulah yang menempa cinta kami hingga seperti ini, bejalan terseok kadang mendaki, kadang menurun curam melintasi terjal waktu, yang tak pernah mau kalah, salip-menyalip dengan jarum jam yang malas bergeliat.

Jarum detik yang berjalan tergesa memang sering mendahului jarum menit yang lamban melata, tapi dia heran kenapa tetap sering tertinggal oleh jarum jam yang tambun dan malas itu.

Roda kehidupan yang sering lalai berputar, dari nyata menuju hayal, dari sengsara menuju bahagia, hanya tersenyum melihat geliat jarum detik yang tetap kuyu sayu, mesti telah sering berlari terpelanting-pelanting dimensi waktu. Hingga lupa perihal senja berguguran yang tak lagi mampu menghitung tidur damai malam, entah karena terlalu nyaman hingga tak mau lagi bangun, ataukah karena tak pernah mampu sampai pada mimpi indah liburan musim semi yang takkan pernah muncul di negeri ini.

Yogyakarta, 28 Juni 2009

Jika ingin membaca Puisi yang lain silahkan KLIK DI SINI…

MATAHARI PECINTA (puisi 41)

Posted: 3 Oktober 2009 in PUISI
Tag:, ,

MATAHARI PECINTA

Hari ini telah berlalu
Tapi aku tetap mencintaimu
Seperti matahari yang ingin mencumbu rembulan
Dalam taburan bintang gemintang
Meski bulan hanya meninggalkan senyum
Yang tak pernah dimengerti olehnya

Aku memang terlalu panas untuk kau setubuhi
Lagi pula seperti apa kata orang nanti
Pelangi pasti akan kehilangan muka
Sebab langit berhenti menangis
Dia hanya tertawa geli
Lagi dan lagi…

Yogyakarta, 28 Juni 2009


SAJAK NESTAPA Jilid 3

Kami langsung bubar,
Saat seret sandal nestapa sayup terdengar
Kami langsung lari
saat nestapa menghampiri.

Kami berlari menelusuri gang-gang kecil penuh anjing dan tikus yang rakus menggerogoti bangsa ini, juga hati kami.

(lebih…)