Posts Tagged ‘iklan’


KETIBAN SAMPUR

(maaf tidak berniat mengeneralisir)

Ketiban sampur adalah istilah yang dipakai oleh orang yang di kalungi selendang oleh seorang penari dalam acara tayuban

Biasanya orang yang ketiban sampur akan di ajak menari di atas panggung, dan di tonton oleh banyak pengunjung. Bagi yang pintar menari hal ini bukan menjadi perkara yang merepotkan, tapi bagi yang nggak bisa menari apalagi pemalu wah bias di jadiin bahan ketawaan banyak orang

Belum lagi kalau mereka harus mengeluarkan uang untuk “nyawer” (memberi uang untuk penari) iya kalau pas bawa uang, kalau pas tidak bawa uang kan jadi berabe, sudah di jadiin bahan ketawaan setelah acara masih di rasani (di gosipi) oleh para penari. Ah ternyata si-A itu kelihatannya Tajir tapi pelitnya minta ampun, jangan-jangan emang kere dari sononya, tapi berlagak aja kayak orang kaya. Dan namanya gossip sama seperti flu babi menyebarnya luarbiasa cepat.

(lebih…)


FILM WALL E versi INDONESIA

Wall e & Eve

Wall e & Eve

Kadang kalau aku mengamati spanduk partai politik atau calon legislatif yang katanya terhormat itu, atau calon kepala daerah, aku kadang senyum-senyum sendiri, hanya fikiran usil sih, tapi saya fikir pantas kiranya untuk kita jadikan bahan renungan.

Begini, lihat dan perhatikan iklan baik spanduk, baliho atau selebaran-selebaran partai politik, calon legislatif dan calon kepala daerah, tidak jarang mereka memasang background tokoh-tokoh terkenal baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Diantara tokoh yang sering dipakai sebagai background antara lain Mantan Presiden Sukarno, Panglima Besar Jendral Sudirman, Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan mungkin masih ada beberapa lagi, kecuali Pak Harto tentunya..

Mengingat hal itu pikiran saya kemudian teringat adegan Film Wall E, film yang menceritakan tentang sebuah robot yang bertugas membersihkan bumi dari kotoran yang menumpuk itu, yang telah dilupakan selama lebih dari tujuh generasi atau sekitar 700 tahun.

Salah satu adegan di film itu menceritakan saat sang pilot pesawat yang dipakai untuk menampung manusia saat diungsikan, menunggu bumi kembali bisa dihuni, memiliki keinginan untuk kembali ke bumi karena telah ditemukan tumbuhan yang bisa hidup di bumi, dia di cegah oleh Auto Pilot yang bentuknya seperti Roda kemudi kapal itu, singkat cerita sang pilot manusia sadar bahwa selama ini dia hanya dijadikan symbol oleh Auto Pilot, bukan cuma dia semua Pilot terahulu juga demikian, kesadaran itu muncul saat sang pilot manusia melihat gambar Auto Pilot yang selalu muncul sebagai background foto-foto Pilot sebelumnya. dari kesadaran ini lah timbul tekat untuk melawan Auto Pilot dan akhirnya berhasil.

Auto Pilot Wall-e & Eve

Auto Pilot Wall-e & Eve

Dari adegan film wall E itu bisa di tarik benang merah (diluar factor promosi), bahwa sesungguhnya calon legislative yang akan memegang kendali Indonesia itu masih dikendalikan oleh tokoh-tokoh masa lalu yang nyata-nyata belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dalam mengelola Indonesia selama lebih dari 60 tahun itu, tokoh-tokoh yang baru, belum berani memunculkan wacana baru pembangunan bangsa, padahal perkembangan dunia yang begitu cepat memerlukan langkah dinamis untuk mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa..

Kalau kita merunut film Wall E, sekedar berandai-andai maka 650 tahun lagi Indonesia mendapat pilot yang berani mendobrak sekat masa lalu, wuiih lamanya.. 650 tahun sudah kiamat belum ya….?


telah di posting di <suklowor.blogspot.com> tanggal 28 juli 2008

INDONESIA KEBANYAKAN MAKAN IKLAN

Banyak orang saat ini menyalahkan kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM dibulan mei kemaren, katanya itulah yang menjadi penyebab rakyat sengsara.

Mungkin itu ada benarnya, karena kenaikan BBM maka harga-harga barang menjadi naik terutama bahan kebutuhan pokok, sedangkan banyak orang yang kenaikan pendapatannya tidak berbanding lurus dengan kenaikan kebutuhan pokok terutama kaum pekerja.

Tapi melihat naiknya harga minyak dunia yang terus membumbung tinggi, saya fakir kenaikan BBM tidak bisa di”nisbi”kan. Toh nantinya semua akan menyesuaikan meski butuh waktu, seperti hukum ekonomi setiap kenaikan harga-harga barang (inflasi) maka dengan sendirinya akan mencari titik equilibrium (keseimbangan), begitu seterusnya. Lihatlah kebelakang, saat BBM dinaikan ditahun 2005, inflasi memang melonjak waktu itu, atau inflasi gila ditahun 1997/1998, orang-orang teriak tentang kemiskinan dan kemelaratan tapi setelah waktu berlalu semua normal kembali indikasinya : peningkatan jumlah penjualan kendaraan bermotor yang luar biasa, begitulah hukum ekonomi berlaku.

Kembali pada judul yang saya tulis diatas, bahwa sebenarnya ada satu penyebab kenapa masyarakat Indonesia sengsara, saya pikir karena rakyat Indonesia terlalu banyak makan iklan, lihatlah kota-kota yang ada di Indonesia sekarang sepertinya tidak ada satu jengkal ruang pun yang lepas dari spanduk, baliho, famlet dan apalah namanya.. hampir setiap menit media cetak, media elektronik tidak lepas dari penayangan iklan, pernahkah kita berfikir berapa uang yang terpakai, Milyaran bahkan trilyunan rupiah, sedangkan, kalau kita bicara mengenai besaran cost of product saya yakin lebih dari 30% mungkin lebih dari 50%, lihat permen yang harganya Cuma 100 perak berani iklan di TV, sesuatu yang terbuang sia-sia.

Benar mungkin ada perputaran uang di sana dan itu akan menjadi satu factor pertumbuhan ekonomi, namun konyolnya perputaran uang tersebut hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang saja, yah mungkin agency iklan atau perusahaan yang memiliki hubungan dengan periklanan.

Tapi untuk orang-orang yang seperti tukang becak, sopir angkot, pedagang, pengemis, atau kaum pekerja yang tidak berhubungan dengan dunia periklanan mereka hanya menjadi korban saja.

Sebagai contoh sederhana untuk keperluan mandi (kebutuhan primer) satu orang saja setiap bulan mereka harus membayar biaya iklan, mari secara matematis kita hitung ; sabun mandi 1.500,- pasta gigi 7.000.- shampoo 7.000,- total 15.500, kalau kita hitung 30% saja biaya iklan berrarti 4.650,- itu hanya satu orang belum satu keluarga dan belum untuk keperluan lainnya, sandal jepit, ballpoint, kecap sampai penyedap rasa dan lain sebagainya jumlahnya lumayan besar, kalau hal ini kita kelola maka saya yakin rakyat kecil akan tertolong.

Lalu siapa yang salah, apakah pengusaha, tidak. Sebab kalau mereka tidak mengikuti pasar mereka akan tertinggal. Sebagai bangsa yang masih menganut faham ekonomi Keynesian yaitu faham yang masih menyertakan peran pemerintah dalam perekonomiannya, maka pemerintahlah yang harus disalahkan karena hanya mereka pemegang regulasi, pemerintah harus mengambil sikap membatasi pemasangan iklan terutama yang ada di ruang public seperti jalan dan tempat2 umum disamping akan membatasi peredaran iklan juga akan membuat bersih tampilan kota. Bagi yang melanggar larangan maka harus ditindak tegas.

Dengan dibatasinya space iklan saya yakin akan memotong biaya iklan yang dikeluarkan dalam setiap produk, sehingga harga jual produk akan semakin murah dan itu sangat meringankan.

Namun seiring kebijakan otonomi daerah maka banyak daerah justru berlomba meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang pastinya berimbas pada kantong “mereka” salah satunya dengan membebaskan iklan terpampang dimana-mana membuat mata yang memandang jadi risih.

Maka dari itu dari kolom kecil ini saya ajak temen-temen atau orang pemerintahan yang masih mempunyai nurani untuk berfikir kearah kebaikan bangsa terutama rakyat kecil yang hidup sengsara.