Posts Tagged ‘sajak’


MALAM LINGGA — MALAM YONI
(Untuk temen2 yang akan merayakan pergantian tahun bersama sang kekasih)

***
Aku setangkup temaram

yang merekareka jalan,
Kota yang sebenarnya tertera
pada peta yang kau selipkan
dikantong celanaku, malam itu.

Ada setangkup harap
yang cemerlang di sudut matamu,
ketika kubisikkan rayuan palsu
diantara gelembunggelembung keringat
mengambang-memantul
berdesingan di sudutsudut ruang
“AKU MENCINTAIMU”

Bulan abuabu berpaling
lolong anjing, senyap;

Secangkir kopi–sebatang cigaret
Sudah cukup menggantikan
kemenyan dan uborampenya
mengundang maklukmakluk antah brantah
menyempurnakan rayuanku

meskipun entah;
merekalah yang menyediakan
secangkir kopi–sebatang cigaret untukku
aku tak tahu

Bintang biru memejamkan mata
pekik kembang api memalingkan pemujanya
Sama ketika aku berpaling darimu bertahun lalu
menyempurnakan pengembaraan
yang pun tak berujung cinta
seperti yang kutemukan di sudut matamu malam itu

Maka itulah kini
aku menjelma setangkup temaram
yang merekareka jalan pulang kekotamu
berpandu bulan abuabu dan bintang warna biru
sebagai pengganti petamu
yang telah kubuang pun bertahun yang lalu

***

24 Desember 2011

*Masih terlalu amatir, sangat butuh kritikan dan saran 🙂

Gambar


MERAPI, ISYARATMU KINI

=====================

MERAPI, ISYARATMU KINI

Kutanya pada gemuruh
Gejolak yang kau rasa,
Adakah ingin kau sampaikan sesuatu?
Pada hati-hati lalai
Atau pada jiwa-jiwa abai

Tak puaskah engkau, hingga..
Getir kami luluh lantak
Gentar kamipun berserak, sampai..
Jiwa-jiwa tak mungkin lagi berontak
(lebih…)


SERULING RASA

Tiuplah seruling rasamu
Hanya untukku
Agar aku bisa membenamkan hatiku
Dalam cakrawala wajahmu…
Mengumpulkan lagi scuel-scuel nada
Pelengkap orkestra cinta
Tersirat dalam partitur tulus jiwa

Akan ku petik harpa harapku
Sebagai pengiringnya
Hingga tercipta harmoni abadi
Berbingkai keabadian sejati
Yang tulus dan suci…

Ngawi, 9 Maret 2009

Seruling Rasa

Seruling Rasa


LANGGAM ASMORONDONO

Gegaraning wong akrami
Dudu bondo, dudu rupo
Amung ati pawitane

Kau diam sesaat
Lalu tetap berlalu
Membawa hatiku pilu…
===%%===

Yogyakarta, 18 Januari 2009

terjemahan bahasa jawanya ada di comment


SEPERTI ITULAH AKU

======

Aku sedang mencari satu cinta saja. Cinta yang benar-benar cinta. Cinta antara sesama manusia. Cinta yang membuat hatiku lumpuh. Cinta yang membuatku tidur dalam pelukan. Menagis dalam belaian. Tersenyum dalam tatapan. Tertawa dalam gurauan. Melamun dengan bayangan. Gelisah dalam kecemburuan. Bersimpuh dalam kasih sayang. Aku pingin yang seperti itu.

Aku sudah hampir putus asa dengan keadaan ini. Hatiku sudah terasa kering. Jiwaku sudah terasa hampa. Bagai balon hidrogen yang terbang kesana-kemari nggak tentu arah, semakin tinggi, semakin tinggi, semakin tinggi. Sampai mencapai matahari dan pecah tanpa ada arti.

Aku ingin seperti gunung yang gagah melindungi bumi. Aku ingin seperti angin yang riang berkejaran dengan dedaunan. Aku ingin seperti laut yang tidak bosan membelai pantainya yang manja. Aku ingin seperti danau yang selalu mampu menampung luapan hati sungai-sungainya, aku ingin, aku ingin, dan aku ingin…..

Sedangkan aku lihatlah. Seperti gua tanpa penghuni, kosong, sepi, hampa. Seperti batu keras, angkuh, kesepian. Seperti kereta api berkepanjangan dalam kesendirian. Seperti korek api terbakar, kepanasan dan habis. Seperti burung dalam jeruji sangkar hati berkicau merdu tanpa arti. Seperti petir yang hanya sesekali menyala dan teriak lalu menghilang entah kemana. Seperti buldoser yang meraung-raung mengeruk berharap mendapat sesuatu tapi nihil. SEPERTI ITULAH AKU

====@@@====

Yogyakarta, 3 Februari 2006