SAJAK NESTAPA Jilid 3
Kami langsung bubar,
Saat seret sandal nestapa sayup terdengar
Kami langsung lari
saat nestapa menghampiri.
Kami berlari menelusuri gang-gang kecil penuh anjing dan tikus yang rakus menggerogoti bangsa ini, juga hati kami.
Sesampai di persimpangan, kami tambah bingung kemana arah yang hendak kami tuju, sebab tidak kami temukan tulisan iba tercetak dalam papan penunjuk arah yang teronggok resah, kami hanya menemukan tulisan Barat, Timur, selatan dan utara, yang dalam benak kami menjelma :
Ke Barat, sesat penuh muslihat
Ke Timur, lacur menuju hancur
Ke Selatan, penuh setan siap menerkam
Ke Utara celaka, didih nanah seribu luka.
Kami lalu mencoba bertanya arah pada nurani yang mawujud dalam sosok nenek renta menggendong ember berisi batu-batu bertulis duka, kami tidak tahu batu-batu itu milik siapa. Yang membuat kami heran bisakah duka menjelma batu yang tak mampu lebur ditempa waktu.
“Ikutilah jalan itu nak, pilih saja salah-satu, daripada kalian akan menjelma batu dan menambah beban gendonganku, sebab kalian tidak akan menemukan Iba yang sekarang lebih berpihak pada durhaka” jawab nurani
Kami belum juga beranjak, sampai satu pertanyaan lain muncul, “lalu hendak kau bawa kemana batu-batu itu nek?Ke Surga, jawab nenek nurani itu singkat
Kamipun terkesiap
Yogyakarta, 28 Juni 2009
BACA JUGA :
Sajak Nestapa, jilid 1
Sajak Nestapa, jilid 2