Oleh: suklowor | 9 November 2009

DIBALIK BEBERAPA STATUS FB KU… (bukan PARODI)

DIBALIK BEBERAPA STATUS FB KU… (bukan PARODI)

***

(maaf saya sedang nggak bawa cermin)

Aku biasanya sangat anti plagiatisme tapi untuk beberapa status FBku dibawah ini, aku membuat pengecualian alias melakukan pelanggaran, meskipun wasit tidak sempat mengeluarkan kartu kuning apa lagi kartu merah, tapi kalau ada yang mau melakukan tendangan bebas ya silahken… wong diriku disini sedang dirimu disana, nggak mungkin kena lageee, dan sebelum melakukan tendangan bebas, pasti dirimu jadi nggak konsen karena melihat pagar betisku… wekekekeke

Baca Lanjutannya…

Oleh: suklowor | 3 Oktober 2009

MATAHARI PECINTA (puisi 41)

MATAHARI PECINTA

Hari ini telah berlalu
Tapi aku tetap mencintaimu
Seperti matahari yang ingin mencumbu rembulan
Dalam taburan bintang gemintang
Meski bulan hanya meninggalkan senyum
Yang tak pernah dimengerti olehnya

Aku memang terlalu panas untuk kau setubuhi
Lagi pula seperti apa kata orang nanti
Pelangi pasti akan kehilangan muka
Sebab langit berhenti menangis
Dia hanya tertawa geli
Lagi dan lagi…

Yogyakarta, 28 Juni 2009

Oleh: suklowor | 17 September 2009

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI (lain-lain 12)

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

Assalamu’Alaikum Wr.Wb

Minal’aidzin Wal Fa’idzin
Terutama untuk teman-teman blogger yang merasa tersinggung dengan tulisan saya baik terutama di comment.. dan temen-temen bloger yang saya belum sempat balas kunjungannya, terutama mas BlueThunderHeard dan Kang Boed, yang karena kesibukan satu bulan ini menyia-nyiakan blog ini, sebenarnya bukan karena nggak ada ide beberapa draft tulisan sudah siap 1 cerpen 3 puisi dan beberapa artikel juga parodi, tapi maklum komputer hanya ada di kantor jadi nggak bisa maksimal.

Permohonan ma’af juga saya tujukan pada pembaca yang terhormat, saya sadar beberapa tulisan saya, terutama artikel.. cukup keras dalam penyampaian, jadi mohon maaf kalau tersinggung…

Sekali lagi, dengan kerendahan hati yang tulus, saya mohon maaf, semoga Ramadhan dan Idul Fitri kali ini… bisa menjadi tonggak bersejarah untuk peningkatan kwalitas hidup kita semua.. amin

Wasalamu’Alaikum Wr. Wb.

Suklowor

Oleh: suklowor | 17 Agustus 2009

SAJAK NESTAPA Jilid 3 (puisi 40)

SAJAK NESTAPA Jilid 3

Kami langsung bubar,
Saat seret sandal nestapa sayup terdengar
Kami langsung lari
saat nestapa menghampiri.

Kami berlari menelusuri gang-gang kecil penuh anjing dan tikus yang rakus menggerogoti bangsa ini, juga hati kami.

Sesampai di persimpangan, kami tambah bingung kemana arah yang hendak kami tuju, sebab tidak kami temukan tulisan iba tercetak dalam papan penunjuk arah yang teronggok resah, kami hanya menemukan tulisan Barat, Timur, selatan dan utara, yang dalam benak kami menjelma :
Ke Barat, sesat penuh muslihat
Ke Timur, lacur menuju hancur
Ke Selatan, penuh setan siap menerkam
Ke Utara celaka, didih nanah seribu luka.

Kami lalu mencoba bertanya arah pada nurani yang mawujud dalam sosok nenek renta menggendong ember berisi batu-batu bertulis duka, kami tidak tahu batu-batu itu milik siapa. Yang membuat kami heran bisakah duka menjelma batu yang tak mampu lebur ditempa waktu.

“Ikutilah jalan itu nak, pilih saja salah-satu, daripada kalian akan menjelma batu dan menambah beban gendonganku, sebab kalian tidak akan menemukan Iba yang sekarang lebih berpihak pada durhaka” jawab nurani

Kami belum juga beranjak, sampai satu pertanyaan lain muncul, “lalu hendak kau bawa kemana batu-batu itu nek?Ke Surga, jawab nenek nurani itu singkat
Kamipun terkesiap

Yogyakarta, 28 Juni 2009

BACA JUGA :
Sajak Nestapa, jilid 1
Sajak Nestapa, jilid 2

Oleh: suklowor | 5 Agustus 2009

GAUN PENGANTIN MERAH (cerpen 3) bagian 3 Selesai

Sambungan dari Bag. 2

GAUN PENGANTIN MERAH bagian 3 Selesai

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di cegah. Saat dalam perjalanan menuju rumah bibi, Mas Ihsan mengalami musibah, motornya tertabrak mobil yang pecah ban yang tak dapat dikendalikan, sampai masuk jalur berlawanan dan menabrak Mas Ihsan, begitulah cerita dari beberapa saksi yang ada di lokasi kejadian.

Baca Lanjutannya…

Oleh: suklowor | 1 Agustus 2009

GAUN PENGANTIN MERAH (cerpen 3) bag. 2

Sambungan dari Bag. 1

GAUN PENGANTIN MERAH bagian 2

Kami sebenarnya sudah mencoba berbicara dengan orang tua kami masing-masing namun mereka menginginkan kami lulus kuliah dulu, bahkan orang tuaku menginginkan pernikahan kami dilaksanakan jika sudah mapan minimal mas Ihsan sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan.

Bukannya kami tidak berusaha untuk menjelaskannya termasuk bahwa rejeki ditangan Allah SWT, namun tetap saja mereka bersikukuh, dan kamipun berfikir untuk menurutinya dengan berpegang pada hadist Rasulullah SAW “Ridlollahi Fi Ridlo Walidaini, Wa Suqtullahi fi Suqtul Walidaini” Ridlo Allah tergantung pada Ridlo kedua orangtua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orangtua. Atas dasar itulah kami kemudian berpacaran sekedar menjaga komitmen sampai nanti saatnya orangtua kami merestui.

Meski status kami pacaran, kami tahu batasan yang tidak boleh kami langgar, jangankan berpegangtangan ngobrolpun harus bareng dengan teman-teman, mungkin kalau ingin sekedar berdiskusi masalah pribadi, kami melakukannya melalui SMS atau Telpon, tidak lebih dari itu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: suklowor | 29 Juli 2009

GAUN PENGANTIN MERAH (cerpen 3) bag. 1

GAUN PENGANTIN MERAH bagian 1

Dia pandangi lagi gaun pengantin warna merah yeng sejak tiga tahun lalu mengiasi lemari baju di pojok kamar tidurnya, ada berjuta rasa menyelinap susul menyusul diantara reruang kalbu yang serasa telah membeku atau mungkin telah membatu, ada ribuan cerita terselip saling selinap diantara benak saat memandang baju itu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: suklowor | 24 Juli 2009

PENYAIR LUPA PURNAMA (puisi 39)

PENYAIR LUPA PURNAMA

***

Entah tenggelam oleh awan
Atau lupa asal-muasal malam

Kata sunyi menari sendiri dalam kelam
Lembut gemulai gerakannya
Membuat penyair itu terpesona
Hingga tak sempat merangkainya
Menjadi puisi apalagi prosa
Meski dia telah mencoba
Mengundang kata lain ikut berdansa
Dengan menabuh melodi hati
Menjadi orkestra rangsa

Rupanya Penyair itu lupa
Bahwa malam ini purnama
Yang membuat kata lain sibuk melukis bulan
Dalam lomba seni rupa
Dan telah lupa hakekat hidupnya
Dalam takdir karya sastra
****

Yogyakarta, 8 s/d 10 Juli 2009

Oleh: suklowor | 14 Juli 2009

TASLAN (Cerpen 2)

TASLAN

Aku hanya terpana diantara ratusan warga kampung yang entah iba atau bahagia memandangi tubuh membujur kaku bersimbah darah, kepalanya pecah, tulang tangannya patah dan paha kirinya robek hingga tak henti mengucurkan darah.

Baca Lanjutannya…

Oleh: suklowor | 9 Juli 2009

RINDU INI MILIKMU (puisi 38)

RINDU INI MILIKMU

****

Ku telungkupkan hatiku
Agar punggungnya bisa istirahat
Setelah sempat cacat
Karena Rindu ini tak jua terucap
***

Yogyakarta, 09 juli 2009

Tulisan Sebelumnya »

Kategori